Sentuhan Teknologi Arab Saudi untuk Krisis Air Bersih di Nusa Tenggara
Jakarta - Spektroom : Musim kemarau panjang yang tak kunjung usai, ditambah bayang-bayang kerusakan infrastruktur pascagempa, membuat pemandangan kering dan krisis air bersih menjadi realita pahit yang harus dihadapi sebagian warga di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Namun, secercah harapan baru justru lahir dari ribuan kilometer jauhnya, tepatnya di Kota Jeddah, Arab Saudi.
Melalui rilis resmi Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah, Senin (26/10/2026) dilaporkan sebuah langkah strategis di sektor pendidikan dan sosial kemanusiaan baru saja terjalin. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) secara resmi menggandeng universitas terkemuka Arab Saudi, Universitas King Abdulaziz (KAU), untuk membawa solusi teknologi air ke tanah air.
Pertemuan penting yang difasilitasi langsung oleh Konsul Jenderal RI Jeddah, Sugiri Suparwan, pada Selasa (20/10/2026 ) lalu ini menjadi jembatan nyata bagi implementasi kerja sama bilateral Indonesia dan Arab Saudi. Bukan sekadar kunjungan kerja biasa untuk memperluas wawasan global, pertemuan ini membawa misi kemanusiaan yang konkret.
Membawa Teknologi Gurun ke Indonesia
Salah satu poin utama yang menjadi sorotan dalam diskusi tersebut adalah rencana penerapan teknologi desalination (desalinasi atau pengolahan air asin menjadi air siap konsumsi) milik KAU. Teknologi yang selama ini menjadi andalan Arab Saudi dalam bertahan di iklim gurun, rencananya akan diadopsi UMM untuk mendukung proyek pengadaan air bersih di kawasan gersang Nusa Tenggara.
Delegasi UMM yang dipimpin oleh Asisten Khusus Rektor Bidang Rekognisi dan Kerja Sama Internasional, Dr. H.C. Drs. Priyo Iswanto, M.H., disambut hangat oleh jajaran akademisi KAU. Di antaranya tampak Dean of FCIT Rabigh Dr. Anas W. Abulfaraj, Dean of Faculty of Engineering Rabigh Prof. Alaa Muhammad Ali Attar, serta Wakil Dekan Bidang Akademik Dr. Faisal Binzagr.
Tak ketinggalan, sederet dosen asal Indonesia yang mengajar di KAU juga turut mengawal jalannya diskusi lintas negara ini.
Kolaborasi Timbal Balik
Hubungan ini dipastikan tidak berjalan satu arah. Sebagai bentuk kolaborasi timbal balik yang setara, UMM menawarkan skema fasilitas akomodasi bagi dosen atau peneliti KAU yang hendak menempuh program Ph.D di Indonesia. Selain itu, kampus berlogo melati ini juga membuka pintu bagi para penutur asli (native speaker) dari KAU untuk mengajarkan bahasa Arab di lingkungan kampus UMM.
Pihak Universitas King Abdulaziz menyambut antusias program-program tersebut. Sebagai langkah ke depan, kedua belah pihak sepakat akan segera menggelar pertemuan lanjutan demi membahas detail teknis pelaksanaan proyek, termasuk peluang beasiswa bagi mahasiswa internasional berprestasi di KAU.
Langkah UMM dan KAU ini menjadi bukti nyata bahwa sekat geografis bukanlah penghalang. Dari meja diplomasi di Jeddah, sebuah solusi teknologi kini sedang dirancang demi mengalirkan kembali air bersih kehidupan bagi warga di pelosok Nusa Tenggara.