62 Tahun Menyalakan Cahaya di Timur Indonesia, STFT Fajar Timur Resmi Bertransformasi Menjadi UNIKA
Spektroom - Di sebuah sudut Abepura, Jayapura, sejarah panjang pendidikan Katolik di Tanah Papua memasuki babak baru.
Setelah 62 tahun setia menyalakan lilin kecil pengetahuan, Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Fajar Timur resmi bertransformasi menjadi Universitas Katolik (UNIKA) Fajar Timur Papua.
Perubahan status itu ditandai dengan terbitnya Surat Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Nomor 30/B/10/2026 tertanggal 9 Januari 2026.
Momentum ini terasa istimewa, karena bertepatan dengan 62 tahun perjalanan STFT Fajar Timur yang berdiri sejak 1964, awalnya diperuntukkan bagi calon imam Katolik di Papua.
Di hadapan para undangan yang hadir dalam seremoni peluncuran di Jayapura, Kepala LLDIKTI Wilayah XIV Papua, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Selatan, dan Papua Barat Daya, S. Semuel Mofu, menyerahkan langsung SK tersebut kepada perwakilan Badan Pendiri Unika Fajar Timur Papua, Petrus Bachtiar, Sabtu (14/2/2026).
Bagi banyak orang, momen itu bukan sekadar seremoni administratif. Ia adalah simbol dari perjuangan panjang Keuskupan Jayapura bersama para pemangku kepentingan yang selama puluhan tahun merawat mimpi tentang pendidikan tinggi yang lebih inklusif di Papua.
“Ini adalah komitmen bersama untuk membentuk kualitas sumber daya manusia di Tanah Papua,” ujar Mofu.
Ia menegaskan, transformasi ini membuka cakrawala baru bagi generasi muda Papua yang sebelumnya hanya mengenal STFT sebagai kampus dengan program studi Teologi Katolik.
Kini, dengan status universitas, UNIKA Fajar Timur Papua memiliki ruang untuk tumbuh lebih luas.
Tidak lagi terbatas pada studi teologi, kampus ini membuka program studi yang selama ini terbilang langka di Papua: Arsitektur, Teknik Sipil, Farmasi, dan Akuntansi, tanpa meninggalkan akar spiritualnya di bidang Teologi.
Bagi para lulusan SMA dan sederajat di Papua, kehadiran universitas ini menjadi harapan baru.
Mereka tak lagi harus selalu menatap jauh ke luar daerah untuk mengejar cita-cita di bidang teknik atau kesehatan. Di tanah sendiri, kesempatan itu mulai tersedia.
Mofu berharap, kehadiran UNIKA Fajar Timur Papua mampu menciptakan suasana kompetitif yang sehat di dunia pendidikan tinggi.
Namun lebih dari itu, universitas ini diharapkan melahirkan lulusan yang tak hanya cerdas secara intelektual dan emosional, tetapi juga matang secara spiritual.
Di usia ke-62, cahaya kecil yang dulu dinyalakan untuk membina calon imam, kini menjelma menjadi lentera besar bagi generasi Papua.
Sebuah transformasi yang bukan hanya soal nama dan status, melainkan tentang harapan yang tumbuh di Tanah Timur Indonesia. (Toni Teniwut)