Algoritma, Nurani, dan Masa Depan Jurnalis

Algoritma, Nurani, dan Masa Depan Jurnalis
Tangkapan layar Iwan (kiri) dan Ridwan (kanan) pada siaran langsung Instagram Unlimited Talks bersama host @Unik_oke(atas).

Spektroom — Dalam beberapa tahun terakhir, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai merambah ruang redaksi.

Teknologi ini dimanfaatkan untuk berbagai pekerjaan teknis, mulai dari transkripsi wawancara, peringkasan dokumen, hingga penyusunan draf berita. Namun, kehadiran AI juga memunculkan pertanyaan mendasar ke mana arah jurnalisme ketika mesin ikut mengambil peran?

Pertanyaan tersebut menjadi benang merah dalam siaran langsung Instagram Unlimited Talks bertajuk “Jurnalis, AI, dan Masa Depan Media”, Rabu (11/2/2026), dalam rangka peringatan Hari Pers Nasional 2026. Diskusi menghadirkan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah Setiawan Hendra Kelana dan Guru Besar Sistem Informasi Universitas Katolik Soegijapranata Prof Ridwan Sanjaya.

Setiawan menegaskan bahwa AI seharusnya diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengambil keputusan editorial. Menurutnya, teknologi tidak bisa dihindari, tetapi batas penggunaannya harus jelas. AI boleh mempercepat kerja teknis, namun proses berpikir kritis, verifikasi fakta, dan tanggung jawab etis tetap menjadi tugas jurnalis.

“Mesin tidak punya nurani. Ia tidak bisa merasakan dampak sebuah berita terhadap masyarakat. Itu tugas manusia,” ujar Setiawan.

Ia juga mengingatkan risiko kesalahan data, bias informasi, hingga penyebaran hoaks jika jurnalis terlalu bergantung pada hasil AI tanpa pengecekan ulang.

Sementara itu, Prof Ridwan menjelaskan bahwa AI bekerja dengan mempelajari pola bahasa dari data dalam jumlah besar sehingga mampu menghasilkan teks yang tampak rapi dan meyakinkan. Namun, kecerdasan buatan tidak memiliki empati, intuisi, maupun pemahaman konteks sosial seperti manusia.

“Jurnalisme bukan hanya soal struktur kalimat, tetapi juga membaca situasi, memahami konflik, dan menangkap sisi kemanusiaan,” katanya.

Menurut Ridwan, AI idealnya menjadi “sparring partner” yang menangani pekerjaan repetitif agar jurnalis dapat fokus pada pendalaman isu, wawancara, dan investigasi.

Ia juga menyoroti tantangan baru seperti manipulasi visual dan deepfake yang semakin mengaburkan batas antara fakta dan rekayasa. Dalam situasi ini, peran jurnalis sebagai penjaga kredibilitas informasi justru semakin krusial.

Kedua narasumber sepakat masa depan media bukan tentang manusia versus mesin, melainkan kolaborasi yang sehat. Teknologi membantu efisiensi, tetapi arah, nilai, dan etika tetap ditentukan oleh manusia.

Hari Pers Nasional 2026 menjadi momentum refleksi bahwa di tengah kemajuan AI, jurnalisme dituntut kembali ke akar utamanya: integritas, empati, dan tanggung jawab sosial. Berita mungkin bisa ditulis oleh mesin, tetapi nurani tetap hanya dimiliki manusia.

Berita terkait