Aroma Kayu Bakar dari Kampung Tuan-Tuan: Bingke Badok, Juadah Legendaris Ketapang

Aroma Kayu Bakar dari Kampung Tuan-Tuan: Bingke Badok, Juadah Legendaris Ketapang
Bukan rupa tapi rasa, inilah ciri khas kue tradisional kampung Tuan-tuan Ketapang "Bingke Badok". (Foto: Bang Oman puak tuan-tuan Ketapang)

Ketapang - Spektroom : Diantara deretan takjil yang menggoda selera saat Ramadan di Ketapang, ada satu juadah yang aromanya lebih dulu menyapa sebelum rasa manisnya menyentuh lidah.

Namanya Bingke Badok—kue tradisional warisan Melayu yang lahir dari Kampung Tuan-Tuan dan tetap setia pada cara masak leluhur: dibakar dengan kayu.

Bingke mungkin bukan nama asing bagi pencinta kue Nusantara.
Di Pontianak orang mengenal Bingke Berendam, sementara di Medan ada Bingke Ambon—meski asal-usulnya kerap diperdebatkan. Namun, Bingke Badok punya identitas berbeda.

Ia tak sekadar varian, melainkan representasi rasa dan cara hidup masyarakat Melayu Ketapang.

Bang Oman, pewaris Kampung Tuan-Tuan, menyebut Bingke Badok sebagai juadah yang “tak boleh absen” saat berbuka.

“Dari dulu, sejak zaman uyuk—kakek nenek kami—Bingke Badok sudah ada. Ini juadah Melayu Ketapang, baik di pesisir maupun pedalaman,” tuturnya.

Secara bahan, Bingke Badok terbilang sederhana: tepung beras, gula pasir, dan telur ayam dalam takaran tertentu.

Semua dicampur dan dikocok hingga rata. Namun, yang membuatnya istimewa adalah prosesnya.

Adonan dituangkan ke dalam cetakan kuningan tembaga tebal, ditutup, lalu dibakar dengan api bawah dan api atas bersuhu sedang. Bukan oven listrik, melainkan kayu bakar yang menyala perlahan.

Dari situlah nama “Badok” berasal. Dalam bahasa lama Melayu Ketapang, “badoq” atau “pandok” berarti bakar.

Seperti ungkapan “mandok kayu di ladang”—membakar kayu di ladang. Filosofinya sederhana: panas yang sabar melahirkan rasa yang dalam.

Hasilnya? Tekstur setengah keras—oleh warga disebut “nyonyor”—lembek namun tidak lembek berair.

Bagian pinggirnya berkerak kecokelatan, bahkan sedikit hangus. Justru di situlah kenikmatan memuncak. “Semakin berkerak di pinggir, semakin sedap,” kata Bang Oman, tersenyum.

Berbeda dari bingke lain yang cenderung dominan manis, Bingke Badok terasa lebih seimbang.

Tidak terlalu manis, lebih ringan di lidah. Di lapak takjil Ramadan, harganya berkisar Rp12.000 hingga Rp15.000 per cetak—cukup terjangkau untuk cita rasa yang sarat sejarah.

Ketapang sendiri adalah kabupaten dengan lebih dari 590 ribu jiwa penduduk, tersebar di 20 kecamatan dengan kepadatan relatif rendah.

Komposisinya heterogen: Melayu, Dayak (termasuk sub-suku Klemantan), Tionghoa, Jawa, dan suku pendatang lainnya.

Aktivitas ekonomi bertumpu pada perkebunan, pertambangan, dan pusat administratif di Delta Pawan.

Di tengah keberagaman itu, Bingke Badok menjadi penanda identitas. Ia hadir bukan hanya sebagai makanan, tetapi sebagai memori kolektif—tentang dapur kayu, tentang tangan-tangan yang sabar mengipasi bara, tentang Ramadan yang dirayakan dengan sederhana namun penuh makna.

Selain Bingke Badok, Ketapang juga memiliki aneka juadah khas seperti Epok-epok, Gegaoq, hingga serabi berkuah.

Namun bagi sebagian warga, berbuka terasa belum lengkap tanpa sepotong bingke yang pinggirnya renyah dan tengahnya lembut.

Aroma kayu bakar yang mengepul dari cetakan tembaga itu seolah menjadi pengingat: di balik modernitas, ada rasa-rasa lama yang tetap bertahan.

Dan di Kampung Tuan-Tuan, Bingke Badok terus dipanggang—menjaga warisan, satu bara pada satu waktu.

Berita terkait

Polisi Gagalkan Rencana Tawuran “Perang Sarung” di Tayu, 7 Remaja Diamankan

Polisi Gagalkan Rencana Tawuran “Perang Sarung” di Tayu, 7 Remaja Diamankan

Semarang-Spektroom: Rencana aksi tawuran atau perang sarung antar kelompok remaja di wilayah Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, berhasil digagalkan jajaran Polsek Tayu. Dalam patroli dini hari, polisi mengamankan tujuh remaja beserta delapan sepeda motor yang diduga akan digunakan menuju lokasi tawuran. Kapolresta Pati melalui Kapolsek Tayu AKP Aris Pristianto mengatakan, penggagalan

Sigit Budi Riyanto, Bian Pamungkas