Asap dan debu mulai cemari udara Pontianak
Spektroom - Asap tipis disertai debu kembali menyelimuti langit Kalimantan Barat.
Di balik angka-angka luas lahan yang terbakar, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyisakan cerita panjang tentang perjuangan warga dan petugas yang berjibaku melawan api demi menjaga ruang hidup mereka.
Sejak pertengahan Januari 2026, api kembali menjalar di sejumlah wilayah Kabupaten Sambas dan Kabupaten Kubu Raya.
Lahan gambut yang kering dan mudah terbakar membuat api cepat meluas, mendekati permukiman dan kebun warga yang selama ini menjadi sumber penghidupan warga.
Hingga Rabu 21 Januari 2026, puluhan hektare lahan dilaporkan hangus terbakar, meninggalkan asap dan kecemasan.
Di Kabupaten Sambas, warga di beberapa desa harus kembali hidup berdampingan dengan bau asap yang menyengat.
Desa Temajuk di Kecamatan Paloh serta Desa Selakau Tua dan Desa Seranggam di Kecamatan Selakau Timur menjadi wilayah yang hingga kini masih berjibaku dengan api.
Sementara di Desa Lambau, Kecamatan Jawai, dan Desa Balai Gemuruh, Kecamatan Subah, api memang telah padam, namun bekas kebakaran masih terlihat jelas di lahan yang menghitam.
Ditemui di Ruang kerja PUSDALOPS PB BPBD Kalbar Koordinator Harian PUSDALOPS PB BPBD Kalbar Daniel memaparkan “Sebagian titik sudah berhasil dipadamkan, tapi masih ada api aktif, terutama di Selakau Timur,” ujarnya Rabu ( 21/01/2026)
Bagi petugas di lapangan, setiap hari harus bepacu dan berjibaku dengan waktu memadamkan api sebelum angin dan panas matahari membuatnya kembali membesar.

Di Kabupaten Kubu Raya, situasi tak kalah mengkhawatirkan. Pemerintah daerah bahkan telah menetapkan Status Siaga Darurat Kabut Asap.
Di Kecamatan Sungai Raya dan Sungai Kakap, api muncul di lahan tidak terkelola yang berdekatan dengan permukiman warga.
Petugas BPBD, relawan, dan Masyarakat Peduli Api harus berjalan jauh menyusuri lahan kering, memikul selang dan mesin pemadam seadanya.
“Jarak sumber air jauh, alat terbatas, dan pendataan luas kebakaran juga tidak mudah,” kata Daniel.
Dalam kondisi seperti itu, kerja gotong royong menjadi kunci. Dari pagi hingga sore, tim terus berupaya memadamkan api. Dari sekitar lima hektare lahan yang terbakar, baru separuhnya berhasil dikendalikan.
Di balik operasi pemadaman, ada kekhawatiran warga akan kesehatan anak-anak, aktivitas ekonomi yang terganggu, hingga ancaman kebakaran yang bisa kembali muncul kapan saja.
Daniel juga menjelaskan Pada 24 jam terakhir pantauan satelit terdapat 216 titik panas (hots spot) kendati dibeberapa wilayah kabupaten kota bedasarkan informasi dan data BMKG telah ada hujan ringan,sedang dan lebat.
Karena itu, BPBD Kalbar terus mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan titik api sekecil apa pun.
Karhutla bukan sekadar persoalan api dan lahan, tetapi tentang menjaga napas, keselamatan, dan masa depan bersama.
Di tengah keterbatasan, harapan tetap menyala bahwa dengan kesadaran dan kepedulian semua pihak, bencana tahunan ini dapat dicegah sebelum kembali menghanguskan kehidupan