Bangun Hutan Analog, Komitmen Tegas dari Desa Hadapi Krisis Iklim
Spektroom - Di tengah ancaman krisis iklim yang kian menekan sektor pertanian dan ketahanan pangan, sekelompok perempuan muda di Kecamatan Sadaniang, Kabupaten Mempawah, memilih jalan berbeda.
Bersama Perkumpulan Gemawan, mereka memulai langkah konkret mitigasi perubahan iklim melalui Pelatihan Teknis Analog Forestry atau Hutan Analog, yang digelar dua hari pada 5–6 Februari 2026 di Desa Sekabuk, Suak Barangan, dan Bumbun.
Pelatihan ini tidak sekadar menjadi ruang belajar teknis, melainkan titik balik bagi perempuan muda desa untuk merebut kembali kedaulatan atas lahan.
Pendekatan Analog Forestry mendorong pengelolaan lahan berbasis ekosistem, dengan meniru struktur dan fungsi hutan alam agar produktif sekaligus lestari.
Di tengah praktik pertanian monokultur yang rentan terhadap cuaca ekstrem, perempuan muda Sadaniang diarahkan bertransformasi menjadi pengelola ekosistem.
Mereka belajar memahami hubungan tanah, tanaman, air, dan mikroorganisme sebagai satu kesatuan yang saling menopang.
Sebagai tindak lanjut pelatihan, kelompok perempuan yang tergabung dalam Kelompok Matahari (Desa Sekabuk), Bukit Marajangan’t (Desa Suak Barangan), dan Wanita Sabun (Desa Bumbun) kini fokus menyiapkan lahan demplot.
Penyiapan dilakukan dengan prinsip konservasi tanah, seperti penggunaan mulsa organik dari dedaunan gugur dan tanaman berakar untuk menjaga kelembapan, memperbaiki struktur tanah, serta menghindari praktik tanah telanjang.
“Kami tidak ingin sekadar membagi bibit lalu membiarkannya mati karena lahannya belum siap,” ujar Koordinator Gemawan Wilayah Mempawah, Lani Ardiansyah, Sabtu (7/2/2026).
Menurutnya, distribusi bibit alpukat, durian, kelengkeng, dan tanaman strata lainnya direncanakan dilakukan satu hingga dua minggu ke depan, setelah ekosistem dasar terbentuk.
“Bibit harus masuk ke sistem yang saling mendukung, bukan lahan gersang yang bergantung pada input kimia,” tegasnya.
Pendekatan ini berpijak pada empat pilar utama: kesehatan tanah, kemandirian, ketahanan (resiliensi), dan keseimbangan ekosistem.
Pegiat Gemawan, Rahmawati, menjelaskan bahwa sistem hutan analog dirancang untuk menjawab persoalan degradasi lahan dengan cara mengintegrasikan tanaman jangka pendek, menengah, dan panjang dalam satu bentang lahan.
“Ketika satu komoditas terdampak cuaca ekstrem, tanaman lain tetap bisa menjadi penopang ekonomi,” katanya.
Lebih dari sekadar sumber pangan dan pendapatan, demplot hutan analog ini diproyeksikan menjadi tabungan ekologis jangka panjang yang mampu menyerap karbon dan memperkuat daya lenting desa terhadap krisis iklim.
Bagi Gemawan, keterlibatan perempuan muda menjadi kunci penting dalam menjaga keseimbangan ekonomi dan ekologi dari tingkat tapak.