Banjir Rendam Rumah, Sekolah, dan Masa Depan Warga Kalbar
Spektroom – Awal tahun 2026 menjadi ujian berat bagi ribuan warga di Kalimantan Barat.
Curah hujan tinggi yang terus mengguyur sejak awal Januari memicu banjir di sejumlah wilayah, memaksa masyarakat bertahan di tengah genangan air yang merendam rumah, fasilitas umum, hingga akses kehidupan sehari-hari.
Data terkini Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) Provinsi Kalimantan Barat per Sabtu, (10/01/2026), mencatat sedikitnya enam kabupaten terdampak cukup parah dari total 14 kabupaten/kota di Kalbar.
Wilayah tersebut meliputi Kabupaten Sekadau, Sambas, Melawi, Bengkayang, Landak, dan Sanggau.
Banjir telah berdampak pada 2.042 kepala keluarga atau 6.262 jiwa. Sebanyak 817 unit rumah terendam, tujuh fasilitas pendidikan tidak dapat difungsikan, dan 23 kepala keluarga terpaksa mengungsi demi keselamatan.
Sebaran bencana meliputi tujuh kabupaten, 20 kecamatan, dan 45 desa, dengan kondisi yang terus berkembang seiring cuaca ekstrem yang belum mereda.

Koordinator Harian Pusdalops Penanggulangan Bencana Provinsi Kalimantan Barat, Daniel, menjelaskan banjir pertama kali dilaporkan terjadi di Kabupaten Sambas pada 2 hingga 5 Januari 2026.
Dua desa di Kecamatan Galing, yakni Desa Tempapan Hulu dan Desa Sajingan, terdampak dengan total 406 kepala keluarga atau sekitar 1.724 jiwa harus menghadapi genangan air yang merusak rumah dan aktivitas ekonomi mereka.
Di Kabupaten Sekadau, banjir merendam Desa Melati dengan 246 kepala keluarga terdampak dan 227 rumah terendam.
Kondisi serupa juga dialami warga Desa Mongko, Kecamatan Nanga Taman, yang mencatat 537 kepala keluarga terdampak.
Sementara di Desa Lembah Beringin, Kecamatan Nanga Mahap, sebanyak 417 kepala keluarga harus bertahan di rumah yang sebagian besar tergenang air.
Lebih memprihatinkan, banjir bandang disertai tanah longsor melanda Kabupaten Melawi.
Di Kecamatan Pinoh, empat desa diterjang arus deras yang membawa lumpur dan material longsoran.
Puluhan keluarga kehilangan rasa aman, sementara akses transportasi dan logistik terputus.
Banjir juga melanda wilayah perkotaan seperti Kota Singkawang akibat hujan lebat yang diperparah banjir rob.
Hingga kini, BPBD setempat masih melakukan pendataan dampak di lapangan.
Daniel menegaskan pentingnya pembaruan data secara cepat dan akurat dari seluruh BPBD kabupaten/kota sebagai dasar pengambilan keputusan penanganan lanjutan.
Berdasarkan prakiraan BMKG, Kalimantan Barat masih berpotensi diguyur hujan dalam beberapa hari ke depan.
“Pemerintah daerah kami minta segera menetapkan status siaga banjir dan tanah longsor agar langkah penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan terkoordinasi,” tutup Daniel.