Benteng Willem I Ambarawa: Jejak Kolonial yang Bangkit Menjadi Ruang Publik Favorit Wisatawan

Benteng Willem I Ambarawa: Jejak Kolonial yang Bangkit Menjadi Ruang Publik Favorit Wisatawan
Hari Saptu/Minggu pengunjung rata-rata 6 ribu wisatawan, sedang libur natal tahun baru berkisar 12 hingga 15 ribu wisatawan.( Foto : Biantoro).

Spektroom - Di jalur strategis Semarang–Magelang, berdiri megah Benteng Willem I Ambarawa. Bangunan raksasa peninggalan kolonial Belanda ini kini menjelma menjadi salah satu destinasi wisata sejarah baru yang paling ramai dikunjungi di Jawa Tengah.

Sejak dibuka untuk umum pada 17 November 2025, ribuan wisatawan—baik domestik maupun mancanegara—datang silih berganti untuk menyaksikan langsung kemegahan arsitektur yang dibangun hampir dua abad silam. Benteng Willem I dibangun secara bertahap sejak 1834 hingga 1853.

Dinding tebal, lorong-lorong panjang, serta tata ruang yang sistematis membuat pengunjung seolah dibawa kembali ke masa lalu. Tak sedikit yang terpukau, membayangkan bagaimana teknologi dan sumber daya pada zamannya mampu melahirkan bangunan sebesar ini.

Keberadaan mobil kuno, menambah daya tarik dan keindahan Benteng Williem 1 Ambarawa. (Foto : Biantoro).

Ratih, wisatawan asal Bantul, mengaku kagum saat pertama kali menginjakkan kaki di dalam kawasan benteng.

“Saya membayangkan di zaman itu sudah bisa membangun bangunan semegah ini. Luar biasa sekali,” ujarnya sambil menyusuri lorong panjang benteng.

Untuk memahami lebih dalam sejarahnya, Spektroom.co.id menemui Rudi Harjanto, mitra pengelola sekaligus pemandu wisata Benteng Willem I. Ia menjelaskan bahwa benteng ini dibangun sebagai bagian dari sistem pertahanan Belanda, didorong trauma ketika Pulau Jawa sempat dikuasai Inggris serta dampak Perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro pada 1825–1830.

Rudi Harjanto, mitra pengelola obyek wisata sering diminta memandu wisatawan manca negara khususnya Belanda. (foto : Biantoro)

“Belanda ingin memiliki pusat militer yang kuat agar setiap potensi perlawanan bisa segera dikendalikan,” jelas Rudi.

Pada masa awal, benteng ini mampu menampung hingga 12 ribu personel. Namun dua gempa besar pada 1865 dan 1872 menyebabkan kerusakan parah, sehingga jumlah personel berkurang drastis.

Memasuki abad ke-20, fungsi benteng bergeser menjadi penjara, seiring meningkatnya aktivitas pergerakan nasional. Bahkan, Soekarno muda pernah ditahan di sini pada 1924 dan tahun 1948.

" Kemudian setelah itu sempat menjadi penjara tapol ketika terjadi kasus G30S PKI bahkan tidak hanya orang-orang daerah sini bahkan ada yang dari Sumatera dan Banten, dan sampai sekarang masih ada 536 napi lapas kelas 2 Ambarawa.

Fungsi sebagai lembaga pemasyarakatan bertahan hingga dekade 1970-an. Setelah lama terbengkalai, proses revitalisasi dimulai pada 2023 dan membuka babak baru bagi Benteng Willem I sebagai ruang publik dan destinasi edukasi.

Antusiasme pengunjung pun terus meningkat. Danish, pelajar asal Semarang, mengaku senang bisa melihat langsung peninggalan bersejarah ini.

“Bagus sekali bangunannya, seolah-olah saya diajak ke luar negeri. Ini menambah wawasan sejarah saya,” katanya.

Ia juga berharap ke depan tersedia brosur atau narasi tertulis di setiap sudut benteng, supaya pengunjung bisa lebih tahu sejarah Benteng Willem I ini,” tambahnya.

Kini, Benteng Willem I Ambarawa bukan sekadar saksi bisu sejarah kolonial dan pergerakan nasional. Ia telah bertransformasi menjadi ruang belajar, rekreasi, dan refleksi—menghubungkan generasi masa kini dengan perjalanan panjang sejarah bangsa Indonesia.

Berita terkait

Senam Sehat D’Aero Komunitas dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis Warnai CFD Salero Ternate

Senam Sehat D’Aero Komunitas dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis Warnai CFD Salero Ternate

Spektroom – Dalam mendukung dan menjaga kesehatan masyarakat sekaligus mendukung Program Kesehatan, D’Aero Komunitas Ternate (Health & Energy) melaksanakan kegiatan rutin senam sehat setiap hari Minggu yang dirangkaikan dengan pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat. Kegiatan berlangsung di area Car Free Day (CFD) Salero Kota Ternate  Minggu pagi (1/2/2026)

Nanang Adrany, Pelinus Latuheru
Tim Ops Pekat Polda Maluku Gelar Patroli Dialogis, Cegah Aksi Kriminalitas di Pusat Perbelanjaan

Tim Ops Pekat Polda Maluku Gelar Patroli Dialogis, Cegah Aksi Kriminalitas di Pusat Perbelanjaan

Spektroom- Tim Operasi Pemberantasan Penyakit Masyarakat (Pekat) Salawaku Polda Maluku, gencar melaksanakan patroli dialogis di tempat-tempat keramaian seperti di pusat perbelanjaan, pasar, hingga terminal angkutan umum. Sabtu (31/1/2026). Kegiatan ini bertujuan mencegah terjadinya aksi premanisme, peredaran minuman keras ilegal, narkoba, prostitusi hingga kejahatan lainnya yang kerap meresahkan masyarakat.

Eva Moenandar, Pelinus Latuheru