Berjaya di Sea Games, Indonesia Gagal di Malaysia Open

Berjaya di Sea Games, Indonesia Gagal di Malaysia Open
Pasangan Fajar Alfian dan Shohibul Fikri Terhenti di Semifinal Malaysia Open. (Foto: dok PBSI)

Spektroom - Kontingen bulutangkis Indonesia mengalami kegagalan. Tidak satupun wakil Indonesia berhasil masuk pada partai final turnamen super seribu Malaysia Open.

Harapan terakhir ada pada ganda Fajar Alfian dan Mohammad Shohibul Fikri yang berjuang di semifinal, namun sayang mereka harus kalah dari andalan Malaysia.

Bermain di Axiata Arena, Kuala Lumpur, Sabtu (10/1/2026) Fajri harus menyerah dua set langsung atas Aaron Chia/Soh Wooi Yik dengan skro 21 - 23 dan 1 - 21. Sebelumnya pemain senior Jonathan Christi juga harus mengakui keunggulan seeded 2 Kunlavut Vitisarn 16 -21 dan 16 - 21 pada semifinal tunggal putra.

Praktis Indonesia nir gelar pada Malaysia open tahun ini. Pengamat Bulutangkis sekaligus Ketua PBSI Kota Semarang Ahmad Muhaimin memberikan pandangannya terkait ganda putra Indonesia.

Menurutnya, Fajri yang merupakan pasangan rombakan masih angin-anginan alias belum stabil dalam meraih gelar, oleh karena itu perlu pasangan pelapis yang lebih banyak.

"Ganda putra ini seharusnya sudah matang untuk juara di setiap turnamen, namun nyatanya penampilan mereka tidak konsisten. PBSI perlu melakukan evaluasi terutama menyiapkan pemain lapis keduanya agar tidak tertinggal dari negara lain." katanya, Minggu (11/1/2026).

Lebih lanjut Muhaimin menegaskan bahwa meskipun Fajar/Fikri belum selesai masa kariernya, tapi sudah cukup berat untuk mengharap prestasi dari mereka.

Meski demikian , dia tetap berharap pasangan ganda Fajar Fikri masih mampu memperbaiki diri dengan penampilan yang lebih konsisten agar tetap dapat berprestasi.

Berita terkait

Sekolah Rakyat Permanen Tahap II, Terus Dilakukan Secara Masif  di Aceh

Sekolah Rakyat Permanen Tahap II, Terus Dilakukan Secara Masif di Aceh

Spektroom – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mempercepat pembangunan permanen Sekolah Rakyat (SR) Tahap II di Provinsi Aceh sebagai bagian dari pemulihan pasca bencana banjir bandang sekaligus upaya memutus mata rantai kemiskinan melalui peningkatan akses pendidikan yang berkualitas. Pembangunan Sekolah Rakyat di Aceh diharapkan menjadi simpul pemulihan sosial dan ekonomi masyarakat terdampak

Nurana Diah Dhayanti