Blok M Fase Ultimate: Wajah Baru Kawasan, Ruh Lama Tetap Dijaga
Jakarta-Spektroom : Blok M tak pernah benar-benar tidur. Di antara arus penumpang yang berganti, kendaraan yang datang dan pergi, deretan gerai, hingga anak muda yang menjadikan kawasan ini sebagai ruang bertemu, Blok M terus tumbuh mengikuti denyut Jakarta.
Kini, kawasan yang telah lama dikenal sebagai salah satu simpul aktivitas perkotaan itu memasuki babak baru. PT MRT Jakarta (Perseroda) menyiapkan transformasi Blok M-Sisingamangaraja melalui konsep Blok M Fase Ultimate, yang dirancang bukan sekadar memperbarui wajah kawasan, tetapi mengubahnya menjadi pusat perkotaan yang lebih aktif, inklusif, dinamis, dan layak huni.
Konsep desain transformasi tersebut diluncurkan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung di Blok M Hub, Rabu (7/10/2026).
Direktur Utama PT MRT Jakarta (Perseroda) Tuhiyat mengatakan, transformasi itu dibangun melalui lima aspek utama yang saling terhubung.
“Tujuan transformasi ini ialah untuk mewujudkan kawasan Blok M dan Sisingamangaraja sebagai pusat perkotaan yang aktif, inklusif, dinamis, dan layak huni di Jakarta,” ujarnya.
Kebutuhan terhadap ruang publik yang nyaman bukan tanpa alasan. Aktivitas masyarakat di Blok M terus menunjukkan tingginya daya tarik kawasan tersebut.
Tuhiyat mencatat, sekitar 25 ribu pengunjung datang ke Blok M Hub setiap hari. Angka itu menjadi salah satu pertimbangan penting dalam merancang kawasan yang mampu menampung mobilitas sekaligus kebutuhan interaksi masyarakat.
Bagi MRT Jakarta, tingginya pergerakan manusia bukan hanya persoalan jumlah. Di baliknya terdapat kebutuhan terhadap konektivitas, ruang berjalan kaki, tempat berkumpul, hingga destinasi yang dapat membuat masyarakat bertahan lebih lama di kawasan.
Transformasi pun tidak akan dilakukan sekaligus. MRT Jakarta menyiapkan tahapan pembangunan agar perubahan kawasan dapat berjalan secara terukur.
Tahap awal mencakup revitalisasi terminal dan Blok M Hub sebagai kawasan ritel, dengan target penyelesaian pada 2029. Setelah itu, pembangunan gedung mixed-use akan dilanjutkan pada tahap berikutnya.
Menariknya, investasi revitalisasi tersebut tidak mengandalkan APBD. MRT Jakarta, sebagai pengelola kawasan, akan mengedepankan skema creative financing dan menggandeng berbagai mitra strategis.
Skema tersebut diharapkan dapat mendorong pengembangan kawasan tanpa sepenuhnya membebani anggaran pemerintah daerah. Namun, di tengah rencana modernisasi, ada satu pesan yang ditekankan Gubernur Pramono Anung: Blok M boleh berubah, tetapi jangan kehilangan identitasnya.
Menurut Pramono, Blok M harus tetap menjadi kawasan yang hidup. Bukan hanya pusat aktivitas ekonomi dan komersial, tetapi juga ruang bagi anak muda untuk berkembang, tempat bekerja, berkolaborasi, serta tumbuhnya tradisi budaya baru.
Aspek budaya, ekonomi, dan komersial, kata dia, harus tetap berjalan beriringan.
Pesan tersebut menjadi penting karena Blok M bukan sekadar kawasan transit.
Selama bertahun-tahun, kawasan ini telah tumbuh menjadi bagian dari memori perkotaan Jakarta dan salah satu destinasi wisata urban yang memiliki karakter tersendiri.
Karena itu, wajah baru Blok M diharapkan tidak menghapus cerita lama, melainkan menghidupkannya dalam bentuk yang lebih relevan dengan kebutuhan kota masa kini.
Transformasi Blok M Fase Ultimate pada akhirnya bukan hanya tentang membangun terminal yang lebih modern atau menambah ruang komersial. Lebih jauh, proyek ini menjadi upaya menata kembali hubungan antara transportasi, ruang publik, aktivitas ekonomi, dan kehidupan warga.
Jika berhasil, Blok M dapat menjadi salah satu contoh bagaimana transportasi publik tidak berhenti pada perpindahan penumpang, tetapi menjadi penggerak lahirnya kawasan kota yang lebih manusiawi. Konsep tersebut sekaligus dapat menjadi model penerapan transit-oriented development di kawasan lain, seiring berkembangnya sistem transportasi publik Jakarta.
Blok M pun bersiap memasuki fase baru.
Bukan untuk meninggalkan masa lalunya, tetapi membawa ruh kawasan itu menuju masa depan Jakarta yang semakin terhubung, terbuka, dan hidup.