BRIN Garap Desain Pabrik Karbon Aktif Berbasis Batu Bara
Lampung - Spektroom : Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengoptimalkan pemanfaatan batu bara nonbahan bakar bernilai tambah rendah menjadi produk industri bernilai tinggi. Salah satu pengembangan yang dilakukan ialah desain pabrik percontohan produksi karbon aktif berbasis batu bara dengan kapasitas 1 ton per hari.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Mineral BRIN, Ika Monika, menyatakan riset ini difokuskan pada pemanfaatan batu bara peringkat rendah yang melimpah di Indonesia untuk diolah menjadi karbon aktif berkualitas tinggi sesuai standar industri melalui rekayasa proses termal yang presisi.
Kebutuhan karbon aktif berkualitas premium di berbagai industri di Indonesia, seperti pengolahan air bersih, makanan dan minuman, farmasi, hingga pemurnian gas pertambangan, hingga kini masih didominasi impor.
“Melimpahnya cadangan batu bara nonbahan bakar menjadi peluang strategis, sehingga penguasaan teknologi produksi skala pilot satu ton per hari dapat mendorong komersialisasi, meningkatkan nilai tambah mineral dalam negeri, serta menjadi langkah substitusi impor,” kata Ika dalam webinar Diseminasi seri ke-9, Rabu (24/6/2026).
Pada skala produksi 1 ton per hari, keberhasilan konversi batu bara menjadi karbon aktif ditentukan oleh pengendalian parameter operasi, dengan proses yang berlangsung melalui dua tahap utama, yakni karbonisasi (pirolisis) dan aktivasi fisik atau kimia.
Pengendalian temperatur, waktu tinggal bahan di dalam reaktor, serta laju alir agen pengaktif merupakan tiga pilar utama yang harus dipantau secara ketat. Deviasi kecil pada parameter operasi dapat menurunkan kinerja daya serap atau memicu kerusakan struktur karbon.
Hasil uji skala pilot menunjukkan karbon aktif berbahan baku batu bara memiliki kualitas fisik dan kimia yang mampu bersaing dengan produk impor. Hal ini ditandai dengan luas permukaan spesifik berdasarkan analisis Brunauer–Emmett–Teller (BET) sesuai standar industri, nomor iodin memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI), serta kadar abu rendah sehingga tidak mencemari media adsorbat.
Keberhasilan pemodelan operasi berkapasitas 1 ton per hari diharapkan segera diimplementasikan melalui kemitraan dengan industri pertambangan batu bara dan manufaktur kimia nasional. (ez/ed:jh, tnt)