Bukan Sekadar Akses, Anak Disabilitas Berhak atas Masa Depan yang Setara
Jakarta - Spektroom : Harapan agar setiap anak dapat tumbuh, belajar, dan meraih masa depan tanpa dibatasi kondisi dirinya menjadi pesan yang mengemuka dalam Special Kids Expo atau Neurodiversity Expo (SPEKIX) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (10/10/2026).
Di tengah beragam informasi dan layanan yang ditawarkan, ada satu kebutuhan yang tak kalah penting: memastikan anak-anak berkebutuhan khusus dan keluarganya tidak berjalan sendirian.
Bagi Srihartati, penyelenggara SPEKIX 2026, kebutuhan akan ruang pendampingan itulah yang melahirkan kegiatan tersebut tujuh tahun lalu.
Saat itu, ia bertemu banyak orang tua yang menghadapi pertanyaan serupa tentang tempat mencari informasi, bantuan, dan arahan bagi anak mereka.
“Tujuh tahun yang lalu saya bertemu banyak ibu yang bertanya hal yang sama, ‘Ke mana saya harus mencari tahu?’ Dari situlah SPEKIX lahir agar tidak ada lagi orang tua yang mencari jawaban sendirian,” katanya.
Kini, SPEKIX berkembang menjadi ruang pertemuan keluarga, tenaga profesional, komunitas, dan penyedia layanan. Tahun ini, kegiatan berlangsung selama dua hari dengan menghadirkan 35 seminar dan lokakarya, 129 tenant pameran, panggung pertunjukan, serta konsultasi gratis bersama psikolog dan terapis.
Di balik berbagai layanan itu, tantangan membangun lingkungan inklusif masih membutuhkan perhatian berkelanjutan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berupaya memperluas pemenuhan hak penyandang disabilitas, tidak hanya melalui fasilitas, tetapi juga kesempatan untuk berpartisipasi dalam kehidupan kota.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan, Jakarta ingin bergerak dari sekadar menyediakan akses menuju pembukaan kesempatan yang setara bagi penyandang disabilitas untuk belajar, bekerja, berkembang, dan berpartisipasi.
Upaya tersebut mencakup 88 Sekolah Luar Biasa (SLB), terdiri atas 13 sekolah negeri dan 75 swasta. Pada Tahap II Tahun 2026, sebanyak 2.764 siswa SLB menerima Kartu Jakarta Pintar (KJP) Plus. Layanan kesehatan ramah disabilitas juga tersedia di 44 puskesmas dan 31 rumah sakit umum daerah.
Untuk mendukung mobilitas, Pemprov DKI mengoperasikan 37 bus sekolah ramah disabilitas pada 10 rute. Sementara itu, hingga September 2026, Kartu Penyandang Disabilitas Jakarta (KPDJ) telah disalurkan kepada 20.890 penerima.
Bantuan alat seperti kursi roda, alat bantu dengar, dan tongkat juga disediakan.
Kesempatan untuk mandiri turut menjadi perhatian. Jakarta mencatat 4.324 pekerja penyandang disabilitas. Pemerintah daerah juga menyediakan 500 lowongan melalui bursa kerja khusus serta melibatkan 133 penyandang disabilitas sebagai mitra binaan Jakpreneur.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifatul Choiri Fauzi menilai, upaya Jakarta berpotensi menjadi percontohan pemenuhan hak anak berkebutuhan khusus. Namun, ia mengingatkan, ekosistem inklusi tidak dapat dibangun melalui program sesaat atau oleh satu pihak saja.
Harapan serupa datang dari Muzdalifah (40), pengunjung asal Cikarang yang hadir bersama putranya, Abdul Bahar Alparizi (15). Ia berharap layanan dalam SPEKIX mendatang semakin lengkap, termasuk pemeriksaan mata bagi anak penyandang disabilitas.
Bagi keluarga seperti Muzdalifah, tambahan layanan sederhana dapat berarti kesempatan memperoleh perhatian yang lebih menyeluruh. Srihartati pun berharap Indonesia kelak menjadi rumah yang ramah bagi setiap individu neurodivergen, sehingga tak ada keluarga yang merasa sendirian mencari jalan.
Sebab, inklusi bukan sekadar menyediakan fasilitas. Lebih dari itu, inklusi berarti membuka ruang agar setiap anak diterima, didukung, dan memiliki kesempatan untuk menentukan masa depannya.