Bundo Kanduang KBSB Lampung Gelar Seminar Literasi Adat dan Budaya Minang

Bundo Kanduang KBSB Lampung Gelar Seminar Literasi Adat dan Budaya Minang
Senen Mustakim - Kaban Kesbangpol Lampung (Foto Spektroom).

Spektroom - Bundo Kanduang Keluarga Besar Sumatera Barat (KBSB) Provinsi Lampung menggelar seminar Literasi Adat dan Budaya Minangkabau bagi Perantau Minang di Provinsi Lampung, berlangsung di Ruang Abung Balai Keratun Kompleks Kantor Gubernur Lampung, di Bandarlampung, Sabtu (20/12/2025).

Melalui seminar tersebut diharapkan semakin terjalinnya komunikasi, kolaborasi, dan sinergi di antara semua unsur, termasuk masyarakat Lampung pada umumnya, dengan tetap berprinsip pada dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. 

Seminar menampilkan dua pembicara,  Prof. Dr. Haji Gusri Ahyar, MSI, Datuk Bagindo Sati,  akademisi dari Universitas Lampung dan Prof. Dr. Jaisman M.Ag, Datuk Mangkudu  akademisi dari UIN Raden Intan  Lampung.


Ditempat yang sama Ketua umum Bundo Kanduang KBSB Provinsi Lampung  Syarifah Maulida El-Hilwa dalam sambutannya mengatakan, orang minang sangat kuat memegang adat dan budayanya. 

audio-thumbnail
Voice Hilwa
0:00
/81.693

Adat bersendi syarak, syarak bersandi Kitabullah, sebuah semboyan atau filosofi masyarakat minangkabau yang sangat mendasar. Pepatah ini menekankan keterkaitan erat antara adat (hukum tradisional dan norma sosial) dengan syarak (hukum Islam).


"Bukan hanya kato-kato, tapi jadi pegangan hidup. Bersosial, bemasyarakat, juga berumah tangga. Dirantau bautan tantangan kita adalah bagaimana caranya nilai-nilai itu hidup dan dipahami oleh anak anak kita" ujar Syarifah Maulida El-Hilwa.

Melalui seminar iko, lanjut Bundo El-Hilwa, kita besamo samo berajak, berdiskusi, dan bertukar pikiran tentang budaya Minangkabau. Baik dari sisi adat, bahasa, sejarah, maupun falsafah. 

Sekali aye gadang, sekali tapian barubah. Zaman boleh berubah, tapi jati diri orang Minang tidak boleh hilang. 

"Kegiatan ini menjadi ruang silaturahmi,  diskusi dan refleksi bersama agar budaya Minangkabau tidak hanya dikenal, tetapi harus hidup dalam ranfa, dalam kehidupan sehari-hari perantau, baik dalam keluarga, masyarakat, maupun generasi muda" katanya lagi.


Sementara Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djauzal dalam sambutan tertulisnya yang disampaijan Kepala Badan Kesatuan Kebangsaan dan Politik (Bakesbangpol) Provinsi Lampung Senen Mustakim, mengatakan, tema seminar ini sangat sejalan bagi masyarakat Minangkabau yang hidup dan berkembang di perantauan, merawat identitas budaya merupakan pondasi untuk beradaptasi dan berkontribusi secara positif di tengah masyarakat yang majemuk.

audio-thumbnail
Voice Kaban Kesbangpol
0:00
/96.8735

Sejarah mencatat bahwa masyarakat Minangkabau adalah bangsa perantau yang besar. Dari lahir budaya Minangkabau lahir banyak tokoh nasional yang memberi sumbangsih penting bagi bangsa dan negara. 

"Salah satunya adalah Bung Hatta  proklamator sekaligus Wakil Presiden pertama Republik Indonesia. Meskipun lama merantau dan berkiprah di tingkat nasional dan internasional, Bung Hatta tetap memegang teguh nilai-nilai Minangkabau tentang kejujuran, kesederhanaan, musyawarah, dan tanggung jawab yang luar biasa" ujar Gubernur Mirza seperti disampaikan Senen Mustakim.


Pada bagian lain sambutannya, Gubernur Mirza juga mencontohkan, tokoh lainnya adalah Buya Hamka, seorang ulama besar, sastrawan, dan pemikir bangsa. Melalui karya dan keteladanannya, Buya Hamka menunjukkan bahwa adat minangkabau yang berpijak pada filosofi Adat bersendi syarak, syarak bersandi Kitabullah, mampu melahirkan pemikiran yang moderat, inklusif, dan serifan dalam kehidupan permasyarakat.


"Keteladanan para tokoh tersebut mengajarkan bahwa literasi adat dan budaya membentuk karakter etika sosial serta sikap budaya bermasyarakat. Inilah kekuatan masyarakat Minangkabau di manapun berada" tutup Senen Mustakim.(@Ng).

Berita terkait