Cap Go Meh dan Ritual Naga Buka Mata: Warisan Sakral yang Tetap Lestari

Cap Go Meh dan Ritual Naga Buka Mata: Warisan Sakral yang Tetap Lestari
Prosesi Naga Buka Mata jelang Cap Go Meh di Kelenteng Kwan Tie Bio Pontianak. Foto: Apolo/Spektroom

Pontianak-Spektroom : Malam ke-15 setelah Tahun Baru Imlek yang tahun ini  jatuh pada (3/3/2026) lusa,  selalu punya suasana berbeda dari tahun ke tahun.

Dentuman mercon bersahutan, kembang api menerangi langit, dan arak-arakan naga meliuk di antara lautan manusia. Bagi masyarakat Tionghoa, inilah Cap Go Meh yang secara harfiah berarti “malam ke-15”, puncak dari seluruh rangkaian perayaan Imlek.

Setelah malam itu, kehidupan kembali berjalan seperti biasa. Para perantau kembali ke kota, toko-toko buka seperti sediakala, dan di pedesaan, para petani mulai turun ke sawah menanam padi yang sebelumnya telah disemai.

Cap Go Meh menjadi semacam garis batas antara perayaan dan realitas keseharian. Namun di balik kemeriahan festival dan makan besar keluarga yang dikenal sebagai Co Cot, tersimpan makna spiritual yang mendalam.

Budayawan Tionghoa Kalbar, Andreas Acui, ditemui Spektroom pada prosesi Naga buka Mata Minggu (1/3/2026)  di Kelenteng Kwan Tie Bio Pontianak menjelaskan bahwa Cap Go Meh bukan sekadar pesta rakyat.

“Banyak orang melihatnya sebagai festival naga dan kembang api, padahal inti dari Cap Go Meh adalah rasa syukur dan doa untuk keselamatan serta keberuntungan di tahun yang baru,” ujar Andreas.

Menurutnya, dalam tradisi Tionghoa, setiap prosesi adat selalu diawali dengan memohon izin kepada Tuhan.Hal ini dilakukan melalui doa di kelenteng sebelum arak-arakan naga dimulai.

Doa tersebut bertujuan agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman, mengingat satu tim naga bisa terdiri dari banyak personel dan disaksikan ribuan warga. Salah satu ritual penting adalah prosesi “buka mata” naga. Upacara ini biasanya dilaksanakan tiga hari sebelum hari ke-15 Imlek. Dalam ritual tersebut, tetua adat yang dikenal sebagai Louya memimpin doa untuk “menghidupkan” naga secara simbolis.

“Secara tradisi, naga itu awalnya hanya replika. Melalui ritual buka mata, naga dipercaya sudah diisi energi spiritual. Sejak saat itu, ia dianggap suci dan memiliki tugas menjaga masyarakat,” jelas Andreas.

Naga yang telah dibuka matanya kemudian diarak keliling kota. Arak-arakan ini bukan sekadar pertunjukan seni. Dalam kepercayaan Tionghoa, naga adalah simbol kekuatan ilahi yang mampu menolak bala dan mengusir roh jahat. Dentuman mercon dan gerakan naga diyakini membersihkan lingkungan dari energi negatif.

Selain menolak bala, arak-arakan naga juga dipercaya membawa keberuntungan dan kemakmuran. Naga yang melewati jalan-jalan utama dianggap sedang menyucikan ruang publik agar tahun baru dipenuhi kesehatan dan rezeki yang baik. Tak jarang, naga singgah di rumah warga atau tempat usaha para donatur sebagai simbol pemberkatan.

“Tuan rumah yang didatangi naga merasa mendapat kehormatan dan berkah. Itu bagian dari keyakinan turun-temurun yang masih dijaga hingga sekarang,” tambah Andreas.

Di beberapa daerah, setelah Cap Go Meh mencapai puncaknya, replika naga yang telah menjalankan tugasnya wajib dibakar. Ritual pembakaran ini melambangkan pengembalian roh naga dan para dewa pendampingnya ke alam surgawi.

“Kalau tidak dibakar, secara kepercayaan tugasnya belum selesai. Pembakaran itu simbol bahwa roh naga kembali ke langit setelah membawa keberuntungan dan menjaga masyarakat,” jelasnya.

Berita terkait

Wali Kota Bukittinggi Imbau Warga Tunda Umrah Akibat Konflik Iran - Israel

Wali Kota Bukittinggi Imbau Warga Tunda Umrah Akibat Konflik Iran - Israel

Bukittinggi-Spektroom : Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, mengimbau warga yang telah mendaftar ibadah umrah untuk menunda keberangkatan sementara waktu. Imbauan itu disampaikan menyusul meningkatnya eskalasi konflik antara Iran dan Israel yang berdampak pada situasi keamanan dan operasional penerbangan di kawasan Timur Tengah. Imbauan tersebut disampaikan Ramlan saat kegiatan Safari Ramadan di

Wiza Andrita, Rafles