CooSAE Dorong Alpukat Hass Jadi Komoditas Premium Pengganti Dominasi Apel dan Jeruk

CooSAE Dorong Alpukat Hass Jadi Komoditas Premium Pengganti Dominasi Apel dan Jeruk
Alpukat hass mempunyai prospek ekonomi yang tinggi ( foto majalah buah)

Batu– Spektroom: Upaya diversifikasi komoditas pertanian di Kota Batu terus digencarkan. CooSAE (Cooperative Smart Agriculture Ecosystem) kini mendorong pengembangan Alpukat Hass sebagai komoditas premium yang diproyeksikan mampu menjadi penyeimbang, bahkan pengganti dominasi apel dan jeruk yang selama ini menjadi ikon daerah.


CEO CooSAE Batu, Rakhmad Hardiyanto, atau yang akrab disapa Hardi, menyebutkan bahwa langkah ini merupakan strategi untuk meningkatkan nilai tambah produk pertanian sekaligus menjawab kebutuhan pasar yang terus berkembang,

CEO Coosae Rakhmad Hardiyanto (foto: buang)


“Selama ini Batu dikenal dengan apel dan jeruk. Tapi kami melihat peluang besar dari Alpukat Hass yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan pasar yang luas, termasuk ekspor,” ujarnya.
Alpukat Hass merupakan varietas

premium asal Australia yang memiliki keunggulan dari segi kualitas dan daya simpan. Kulitnya tebal, kasar, dan berbatu, dengan perubahan warna dari hijau menjadi ungu kehitaman saat matang. Daging buahnya berwarna kuning keemasan, teksturnya pulen dan cenderung kering, serta memiliki cita rasa gurih khas seperti mentega atau kacang. Karakter ini membuatnya sangat diminati pasar modern dan internasional.


Di Kota Batu, pengembangan Alpukat Hass telah dilakukan di sejumlah wilayah seperti Tulungrejo, Sumbergondo, hingga Bulukerto. Kawasan pinggiran hutan ini dinilai sangat ideal karena ditanam berdampingan dengan tanaman kopi dalam konsep agroforestry, yang tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi, tetapi juga berfungsi sebagai penahan erosi tanah dan potensi longsor.


Meski masih dalam tahap awal, produktivitas tanaman ini cukup menjanjikan. Satu petani bahkan mampu mengelola ratusan pohon dalam satu lahan. Harga di tingkat petani pun tergolong tinggi, berkisar antara Rp26.000 hingga Rp30.000 per kilogram.


CooSAE sendiri merupakan koperasi multi pihak berbasis ekosistem inklusif yang menghubungkan petani, pengolah, pemasar, hingga mitra pendukung dalam satu sistem terintegrasi.


“Fokus utama kami adalah meningkatkan kesejahteraan petani melalui teknologi, inovasi, dan kolaborasi. Jadi bukan sekadar koperasi biasa, tapi ekosistem pertanian modern,” jelas Hardi.


Melalui konsep inclusive closed loop, CooSAE memastikan seluruh rantai nilai dari hulu hingga hilir berjalan dalam satu sistem yang saling menguntungkan. Petani tidak hanya menanam, tetapi juga mendapatkan akses pasar, pendampingan usaha, hingga dukungan teknologi.


CooSAE juga memberikan pemberdayaan melalui pelatihan budidaya berbasis standar Good Agricultural Practices (GAP), penyediaan sarana produksi seperti bibit dan pupuk, serta penguatan pascapanen untuk meningkatkan kualitas produk.


Dalam waktu relatif singkat, CooSAE telah menjalin kemitraan dengan berbagai pihak, di antaranya PT Sweet Greens Indonesia, Superindo, serta Koperasi Amanah Samboja Sejahtera sebagai mitra pemasaran hasil pertanian.


Produk-produk anggota CooSAE bahkan telah mulai masuk ke retail modern dan menjajaki pasar ekspor, termasuk pengiriman awal ke Singapura.
“Ini memang belum besar, tapi menjadi bukti bahwa produk Batu punya daya saing global. Tinggal bagaimana kita konsisten menjaga kualitas dan kontinuitas,” tegas Hardi.


Dengan pendekatan berbasis teknologi dan kolaborasi lintas sektor, CooSAE optimistis Alpukat Hass dapat menjadi komoditas unggulan baru yang mampu mengangkat perekonomian petani sekaligus memperkuat posisi Kota Batu sebagai sentra pertanian modern.


Ke depan, Alpukat Hass diharapkan tidak hanya menjadi alternatif, tetapi juga simbol transformasi pertanian Batu menuju sistem yang lebih adaptif, berkelanjutan, dan berorientasi pasar global.

Berita terkait