Dari Gunungan Hingga Lengger Bule, Pesona Grebeg Suran Baturaden
Baturaden-Spektroom: Pagi itu, udara sejuk Baturaden terasa berbeda. Di sepanjang jalan menuju kawasan wisata, penjor menjulang anggun, umbul-umbul berkibar ditiup angin pegunungan, sementara warga dari 12 desa penyangga sibuk menyambut tamu yang terus berdatangan.
Hari Minggu (12/7/2026), Baturaden tak sekadar menjadi tempat berlibur. Ia menjelma menjadi panggung budaya yang menghidupkan kembali makna Grebeg Suran.
Sejak subuh, para pelaku UMKM telah membuka lapak. Aroma mendoan hangat, sate, hingga aneka jajanan tradisional bercampur dengan riuh tawa wisatawan. Diperkirakan sekitar 50 ribu pengunjung memadati Lokawisata Baturaden untuk menyaksikan tradisi tahunan yang telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Banyumas.
Namun, Grebeg Suran bukan sekadar keramaian. Di balik arak-arakan yang meriah, tersimpan rangkaian ritual yang diwariskan turun-temurun.

Tradisi diawali sehari sebelumnya dengan ruwatan, dilanjutkan pagelaran wayang kulit semalam suntuk sebagai bentuk doa dan sedekah bumi menyambut datangnya bulan Suro atau Muharram.
Koordinator Lokawisata Baturaden, Agus Riyanto, menjelaskan bahwa Grebeg Suran menjadi ruang untuk menjaga kesakralan tradisi sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Banyumas kepada masyarakat luas. Setelah prosesi peletakan dan larung sesaji, warga dari 12 desa penyangga menampilkan beragam kreasi budaya dalam arak-arakan yang melintasi kawasan wisata.
Di antara ribuan pasang mata, Akhmad, wisatawan asal Tangerang, tampak tak henti mengabadikan suasana dengan telepon genggamnya. Baru pertama kali datang ke Baturaden, ia mengaku terkesan melihat tradisi yang begitu hidup.
"Bagus sekali, ramai. Tadi baru lihat arak-arakan Grebeg Suran. Saya memang datang untuk liburan, ternyata bisa sekaligus melihat budaya seperti ini," katanya.
Salah satu pertunjukan yang paling menyita perhatian adalah penampilan Tari Lengger yang dibawakan sejumlah penari asal Belgia. Dengan gerakan yang luwes dan penuh penghayatan, mereka berhasil memukau penonton.
"Wah, orang bule membawakan Tari Lengger dengan luwes, mengalahkan penari daerah asalnya," ujar Ningsih, warga Purwokerto Utara, sambil tersenyum kagum.
Menjelang sore, puncak kemeriahan tiba ketika gunungan hasil bumi setinggi empat meter diperebutkan warga. Suasana berubah riuh penuh suka cita. Anak-anak, orang tua, hingga wisatawan larut dalam kegembiraan, diiringi alunan calung Banyumasan, atraksi barongsai, dan sajian makan gratis dari komunitas UMKM.
Anggota DPR RI Komisi VII, Siti Mukaromah yang sengaja datang ke Baturaden, menilai Grebeg Suran memiliki dampak yang luas. Tradisi ini bukan hanya menjadi upaya nguri-uri budaya, tetapi juga menggerakkan roda perekonomian masyarakat melalui sektor pariwisata.
Di Baturaden, Grebeg Suran membuktikan bahwa tradisi tidak pernah usang. Ia terus hidup, menyatukan warga, mengundang wisatawan, dan menjadi jembatan antara budaya lokal dengan dunia.
Di tengah udara pegunungan yang sejuk, Banyumas kembali menunjukkan bahwa warisan leluhur akan selalu menemukan cara untuk tetap dicintai lintas generasi.