Dari Marbot Hingga Ketua Koperasi: Lika-Liku Perjalanan Hidup Fauzi A. Latif
Pontianak-Spektroom : Hidup tak selalu berjalan sesuai rencana. Bagi Fauzi A. Latif, pria kelahiran 1971 asal Desa Dabong, Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya, perjalanan hidup justru dipenuhi pilihan-pilihan sulit yang membawanya ke jalan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Kini di usia 55 tahun, Fauzi dikenal sebagai Ketua sebuah koperasi tempat ia mengabdi selama puluhan tahun. Namun, jalan menuju posisi itu tidaklah mudah. Ia memulai semuanya dari bawah—bahkan dari pekerjaan yang sering dipandang sebelah mata.
Fauzi merupakan anak kedua dari enam bersaudara. Sejak kecil ia hidup dalam kesederhanaan di kampung halamannya.
Setelah menamatkan pendidikan sekolah dasar, ia memutuskan merantau ke Kota Pontianak demi mencari peluang hidup yang lebih baik.
“Di Pontianak saya tidak punya rumah. Waktu itu saya tinggal di masjid dan menjadi marbot,” kenangnya.
Hari-harinya diisi dengan membersihkan masjid, membantu jamaah, dan menjalani kehidupan yang sangat sederhana.
Meski demikian, ia tidak pernah berhenti berharap suatu saat hidupnya bisa berubah.
Pendidikan Fauzi berlanjut hingga tamat Sekolah Pendidikan Guru (SPG) pada tahun 1991.
Ijazah itu sebenarnya membuka peluang besar baginya untuk menjadi guru. Bahkan saat itu ia pernah ditawari menjadi pegawai karena memiliki ijazah pendidikan. Namun jalan hidup berkata lain.
Ketika kesempatan menjadi guru datang, penempatan yang ditawarkan berada di daerah pedalaman yang sangat jauh.
Fauzi yang saat itu memiliki keinginan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi akhirnya memilih tidak mengambil kesempatan tersebut.
“Kalau dipikir sekarang, mungkin saya sudah jadi kepala sekolah kalau dulu menerima jadi guru,” ujarnya sambil tersenyum.
Meski tidak menjadi guru, semangat belajarnya tidak pernah padam. Fauzi mengikuti berbagai kursus keterampilan seperti komputer Lotus, pelatihan mengetik sepuluh jari, hingga berbagai pelatihan lainnya.
Ia bahkan sempat kuliah di Universitas Terbuka melalui kelas kampus, meski akhirnya tidak selesai karena kesibukan bekerja.
Perjalanan kariernya dimulai dari pekerjaan sederhana. Ia pernah menjadi tukang sapu kantor dengan gaji hanya Rp75 ribu per bulan.
Namun bagi Fauzi, pekerjaan sekecil apa pun tetap ia jalani dengan penuh tanggung jawab.
Kesempatan kemudian datang ketika ia mulai bekerja di sebuah koperasi.
Awalnya ia hanya dipercaya sebagai petugas kebersihan selama sekitar satu tahun. Setelah itu, ia mulai membantu urusan luar koperasi hingga pembukuan sederhana.
Kejujuran dan ketekunannya membuat pengurus dan anggota koperasi mulai mempercayainya.
Fauzi perlahan belajar memahami manajemen koperasi, meskipun latar belakang pendidikannya bukan di bidang tersebut.
Tahun demi tahun berlalu. Pengabdian panjangnya selama sekitar tiga dekade di koperasi akhirnya mendapat pengakuan dari para anggota. Pada tahun 2026, ia dipercaya untuk maju sebagai Wakil Ketua koperasi.
Kepercayaan itu tidak berhenti di sana. Lima tahun kemudian, Fauzi kembali mendapat dukungan dari para anggota untuk menduduki kursi Ketua koperasi.
Bagi Fauzi, jabatan itu bukan sekadar posisi, melainkan amanah besar yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya.
“Kehidupan mengajarkan saya bahwa kerja keras dan kejujuran itu tidak pernah sia-sia,” katanya.
Kini, meski hidupnya telah jauh berubah dibanding masa mudanya yang penuh keterbatasan, Fauzi tetap dikenal sebagai sosok sederhana.
Pengalaman hidup dari menjadi marbot, tukang sapu, hingga akhirnya memimpin koperasi menjadi bukti bahwa jalan hidup setiap orang bisa berubah—asal dijalani dengan kesabaran, kerja keras, dan keyakinan.