Dari Stasiun Tangki BBM ke Gerbang Ekonomi Warga: Harapan Baru di Stasiun Maos
Spektroom - Senja di awal bulan Romadhon belum sepenuhnya turun di Stasiun Maos, Cilacap. Tampak sekitar stasiun kini semakin ramai, pedagang kopi, gorengan, dan jajanan kecil mulai menata dagangannya. Di sudut lain, tukang ojek bersiap menawarkan jasa kepada penumpang yang baru turun dari kereta.
Stasiun yang dulu identik dengan lalu lintas kereta tangki bahan bakar minyak (BBM) kini pelan-pelan berubah wajah: menjadi ruang hidup baru bagi warga sekitar.
Wardi, warga Karangreja, Maos, merasakan perubahan itu. Ia menyebut Stasiun Maos kini semakin ramai oleh penumpang, terutama dalam beberapa tahun terakhir.
“Sekarang lumayan ramai. Lumayan bisa menumbuhkan ekonomi warga serta mengurangi pengangguran karena banyak UMKM dan tukang ojek yang beroperasi,” tuturnya.
Data PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 5 Purwokerto mencatat, sepanjang 2025 Stasiun Maos melayani rata-rata 8.600 penumpang berangkat dan 8.100 penumpang tiba per bulan. Angka itu menunjukkan geliat baru yang tak hanya berarti bagi transportasi, tetapi juga bagi denyut ekonomi lokal.
KAI pun menangkap potensi tersebut. Manager Humas KAI Daop 5 Purwokerto, M. As’ad Habibuddin, mengatakan pihaknya tengah meningkatkan fasilitas stasiun melalui program pengembangan infrastruktur. Dua peron ditinggikan agar sejajar dengan lantai kereta, sementara panjang peron diperpanjang dari 135 meter menjadi 296 meter untuk melayani rangkaian kereta yang lebih panjang.
“Peningkatan ini juga untuk aspek keselamatan dan kemudahan akses bagi semua pelanggan, termasuk lansia, anak-anak, dan penyandang disabilitas,” ujarnya.
Kanopi peron diperpanjang, lantai keramik diganti granit, atap diperbaiki, dan mushola direvitalisasi. Semua pembenahan itu ditargetkan rampung akhir Februari 2026, bertepatan dengan persiapan menghadapi lonjakan penumpang Angkutan Lebaran.
Kini, Stasiun Maos melayani perjalanan ke Cilacap, Purwokerto, Bandung, Jakarta, Solo, Surabaya, hingga Banyuwangi. Bagi warga sekitar, stasiun ini bukan sekadar titik naik turun kereta, tetapi juga harapan: tentang peluang usaha, lapangan kerja, dan masa depan ekonomi yang bergerak seiring deru lokomotif yang datang dan pergi.