Dari Surabaya ke Palembang : "Antara Imlek dan Ramadhan, Tercermin di Masjid Cheng Ho"
Spektroom - Lampion merah belum sepenuhnya padam ketika niat puasa mulai terucap lirih. Di satu sisi, Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili menyapa dengan semangat pembaruan. Di sisi lain, Ramadhan 1447 Hijriah hadir membawa janji penyucian jiwa. Dua penanggalan, dua tradisi besar, bertemu dalam satu waktu, sebuah peristiwa langka yang terasa begitu bermakna, terutama bagi keturunan Tionghoa yang memeluk Islam.
Di tengah perjumpaan dua cahaya itulah, Masjid Cheng Ho berdiri sebagai ruang teduh. Dia bukan hanya tempat bersujud, tetapi juga tempat pulang bagi identitas, sejarah, dan keberagaman yang selama ini hidup berdampingan di Nusantara
Masjid di Palembang ini terlihat begitu mencolok. Bangunan utamanya didominasi warna pink dengan pilar-pilar berwarna merah.
Atapnya terdapat kubah berwarna hijau dengan bulan sabit dan bintang layaknya masjid-masjid di Timur Tengah. Sementara di keempat sudut bangunan terdapat atap berbentuk limas, salah bentuk rumah adat di Palembang, berwarna hijau.
Masjid dilengkapi dua menara serupa pagoda berwana merah, yang masing-masing diberi nama “Habluminallah” dan “Hambluminannas” –”hubungan manusia dengan Allah” dan “hubungan dengan sesama manusia”.
Kedua menara itu punya lima tingkat, yang melambangkan shalat lima waktu dalam sehari. Tinggi menara mencapai 17 meter; simbol dari jumlah rakaat yang harus dikerjakan setiap Muslim dalam sehari.
Di lantai dasar masing-masing menara terdapat tempat wudhu. Sementara bagian luar menara dibubuhi ornamen khas Palembang berupa tanduk kambing.
Di dalam masjid, pengunjung akan mendapati warna dominan merah yang identik dengan budaya Tionghoa. Desain daun pintu utama, pancang-pancang, dan ornamen pagar pembatas di bagian atas kian mempercantik tampilan interior masjid yang kental nuansa Tionghoa.
Pemberian nama Cheng Ho juga bukan tanpa alasan. Cheng Ho (Zheng He), yang dikenal sebagai panglima angkatan laut Tiongkok pada ke-15, diyakini memimpin ekspedisi keliling dunia, termasuk ke Palembang.
Lain lagi dengan Masjid Cheng Ho di Surabaya, tidak hanya memiliki arsitektur khas negeri Tiongkok. Namun, Masjid yang dibangun untuk menghormati laksamana Tiongkok yang muslim ini, juga dikelola oleh Takmir dari keturunan Tionghoa.
Terlahir dengan nama Ong Sincuy, Haryono sudah mu'alaf sejak 30 tahun yang lalu. Islam dipilihnya karena memberikan ketenangan hati.
Dia mengaku beruntung tidak ada pertentangan sama sekali di keluarga besarnya.
Hubungannya dengan keluarga yang berbeda agama tetap harmonis hingga sekarang.
"Pesan orang tua kepada saya ketika saya masuk Islam, orang tua saya memberikan pesan begini, jika kamu menjadi seorang Muslim, jadilah Muslim yang baik, Muslim yang sejati, Muslim yang benar-benar Muslim, jangan Muslim hanya namanya saja".
Sebagai takmir, tugas utama Haryono adalah memakmurkan Masjid Cengkho, menjadikannya sebagai pusat dakwah dan keilmuan.
Karena itu, kerap kali disetiap selesai tugas sebagai dosen, Haryono menyepatkan datang ke masjid dan membuat taklim kecil bersama jamaah.
Biasanya tausiahnya adalah soal hubungan baik antar manusia, tanpa memandang asal dan agama.
"Dalam menjalankan agama Islam ini, dalam bermuamalah, di dalam habalum minallah, habalum minanas, hubungan kita kepada Allah, hubungan kita dengan sesama manusia, harus bagus, baik. Yang terakhir adalah harus ikhlas. Islam ini harus ikhlas. Mengerjakan apapun harus ikhlas.
Selama 10 tahun, Haryono Ong menjadi takmir di Masjid Cengkho, sebuah masjid yang didirikan komunitas Tionghoa Muslim untuk menghormati laksamana Cengkho, jenderal muslim Tiongkok dari dinasti Ming abad ke-15.
Bagi Haryono, masjid ini adalah simbol ukhuwah Islamiah, persaudaraan antar umat tanpa memandang aliran dan mashab. Salah satu contohnya adalah pelaksanaan sholat tarawih di sini.
"Jadi jika jamaah ini menginginkan sholat tarawih di Masjid Cengkho yang 8 rokaat, silahkan. Tidak ada masalah. Jika ingin 20 rokaat, silahkan. Jadi jangan sampai antara 8 dan 20, itu menyebabkan pecahan agama ini."
Menurut Haryono, saat ini ada 1500an muslim Tionghoa di kota Surabaya. Dia juga bersyukur keterimaan mereka di masyarakat sangat mudah. Ini menurutnya menunjukkan ukhuwah Islamiah yang begitu nyata di kota Surabaya.(@Ng) (Sumber CNN Indonesia).