Densus 88 Anti Teror Mencatat 110 Anak Terpapar Ideologi Radikalisme dan Terorisme Melalui Medsos
Denpasar - Spektroom: Dalam Rangka Pencegahan Paham Intoleransi, Radikalisme, Ekstrimisme Dan Terorisme Serta Paham Fanatisme Kekerasan Terhadap Anak Kepada Jajaran Bhabinkamtibmas Wilayah Hukum Polresta Denpasar, Bidang Humas Kepolisian Daerah Polda Bali menggelegar Talkshow Segitiga Ekosistem Perlindungan Anak dilingkungan Polda Bali.
Kapolda Bali Irjen. Pol. Daniel Adityajaya, membacakan sambutan Kepala Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Polri Irjen. Pol Sentot Prasetyo menyatakan Perkembangan zaman yang sangat pesat saat ini merupakan dua sisi yang bertolak belakang.

Banyak hal positif yang dapat kita nikmati di era digitalisasi ini. Terutama bagi anak-anak kita yang saat ini sedang menempuh pendidikan, baik di tingkat dasar maupun menengah.
Perkembangan yang terjadi juga berdampak terhadap aksi terorisme yang ada di Indonesia.
"Jika pada saat sebelum adanya digitalisasi penyebaran paham ideologi, radikalisasi, ekstremisme, dan terorisme dilaksanakan secara konvensional namun saat ini polanya bergeser pada pemanfaatan media sosial yang lebih sulit dideteksi dan menyasar anak-anak muda yang rentan dan sedang mencari jati diri." ujar Irjen. Pol. Daniel Adityajaya, membacakan sambutan Kepala Densus 88 Anti Teror Polri Irjen. Pol Sentot Prasetyo, di Denpasar Jum'at (24/42026).
"Data di lapangan menunjukkan Densus 88 Anti Teror telah melakukan intercept (pencegahan) terhadap 110 anak yang terpapar ideologi radikalisasi ekstremisme dan terorisme melalui media sosial, serta 70 anak lainnya yang juga terpapar though crime community via platform yang sama" katanya lagi.
Sementara ditempat yang sama Wakil Mentri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN Ratu Ayu Isyana Bagus Oka mengtakan Presiden Prabowo Subianto, melalui Asta Cita pertama, menegaskan komitmennya untuk memperkuat ideologi Pancasila, demokrasi dan hak asasi manusia, sekaligus juga menjaga ketahanan sosial bangsa.
"Tidak hanya itu, di Asta Cita yang keempat, Presiden menegaskan komitmennya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, termasuk juga penguatan peran perempuan dan peran generasi muda yang akan menjadi penerus bangsa di masa depan." terang Isyana.
Komitmen ini, lanjut Isyana tercermin dari langkah nyata Presiden yang membentuk Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga yang sebelumnya statusnya adalah sebuah Badan, yakni Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)
"Ini adalah langkah nyata untuk melindungi keluarga, termasuk melindungi anak dari paham-paham ekstremisme. Karena untuk bisa mewujudkan ketahanan sosial bangsa dan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia perlu dilakukan melalui unit-unit yang terkecil, yakni dimulai dari keluarga" ujar Isyana Bagus Oka merinci.
Sementara sebelumnya Gubernur Bali I Wayan Koster menyampaikan bahwa penyebaran intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme menyasar generasi muda sebagai kelompok yang rentan. Terlebih Bali merupakan destinasi wisata utama dunia. Tentu sangat mudah akan masuk ke wilayah Bali.
"Ancaman tersebut sering hadir secara halus melalui narasi sederhana konten digital tanpa pengawasan, maupun interaksi sosial yang membentuk pola pikir secara bertahap" ujarnya.
Sebagai daerah tujuan pariwisata dunia, terus I Wayan Koster, Bali memiliki tingkat interaksi global yang sangat tinggi. Kondisi ini membawa manfaat besar, namun juga menghadirkan tantangan dalam menjaga jadi diri generasi muda agar tetap berakar pada nilai hur budaya dan nilai-nilai kebangsaan.(@Ng).