Di Balik Khusyuk Ibadah Paskah, Ada Pengabdian yang Senyap
Landak - Spektroom — Minggu pagi (05/04/2026) itu terasa berbeda di Gereja Katolik Santo Yusuf Karangan. Umat datang dengan pakaian terbaik, wajah-wajah penuh harap, dan hati yang siap merayakan Paskah momen kemenangan iman atas penderitaan.
Di dalam gereja, doa-doa dipanjatkan dengan khusyuk. Namun di luar, ada sosok-sosok yang bekerja dalam diam, memastikan semuanya berjalan tanpa gangguan. Mereka adalah personel Polsek Mempawah Hulu.
Sejak pagi, aparat kepolisian telah bersiaga di sekitar gereja. Dengan seragam lengkap dan sikap penuh kewaspadaan, mereka mengatur lalu lintas, mengawasi area sekitar, serta menyapa warga yang datang.
Kehadiran mereka bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk nyata dari pelayanan memberi rasa aman agar ibadah dapat berlangsung dengan tenang. Di tengah hiruk pikuk kendaraan yang melintas, seorang petugas dengan sigap membantu seorang lansia menyeberang jalan menuju halaman gereja.
Sementara itu, petugas lainnya tampak berdiri di titik-titik strategis, memastikan tidak ada potensi gangguan keamanan. Tak banyak kata yang terucap, namun tindakan mereka berbicara banyak.
Kapolres Landak, AKBP Devi Ariantari melalui Kapolsek Mempawah Hulu Ipda Paskarianto menyampaikan bahwa pengamanan ini adalah bagian dari komitmen Polri dalam melayani masyarakat tanpa memandang latar belakang.
“Ini adalah bentuk kehadiran negara di tengah masyarakat. Kami ingin memastikan umat dapat beribadah dengan rasa aman dan nyaman,” ujarnya.
Bagi sebagian orang, kehadiran aparat mungkin terasa biasa. Namun bagi umat yang datang membawa harapan dan doa, rasa aman adalah bagian penting dari kekhusyukan.
Tanpa gangguan, mereka dapat menundukkan kepala lebih dalam, memejamkan mata lebih tenang, dan meresapi makna Paskah dengan sepenuh hati. Paskah sendiri bukan sekadar perayaan. Ia adalah refleksi tentang pengorbanan, harapan, dan kehidupan baru. Nilai-nilai itu pula yang tercermin dalam tugas para aparat mengabdi tanpa pamrih, hadir tanpa sorotan, dan bekerja demi ketenangan banyak orang.
Hingga ibadah usai, situasi tetap terjaga kondusif. Umat keluar dari gereja dengan wajah damai, sebagian saling bersalaman, lainnya berkumpul bersama keluarga. Di kejauhan, para personel masih berdiri di posnya, memastikan arus pulang berjalan lancar.
Mungkin mereka tak ikut duduk di bangku gereja. Namun lewat tugas yang dijalankan, mereka telah menjadi bagian dari perayaan itu sendiri menjaga damai agar tetap hidup, bukan hanya di dalam gereja, tetapi juga di tengah masyarakat.