Di Balik Sunyi Jumat Agung, Ada Mereka yang Menjaga Ketenangan
Ketapang-Spektroom : Di dalam gereja, suasana hening menyelimuti umat Kristiani yang larut dalam doa Jumat Agung.
Lantunan kidung Rohani mengalun pelan, mengiringi refleksi atas pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib. Namun di luar tembok gereja, ada kesibukan yang tak kalah penting sekelompok aparat berjaga, memastikan kekhusyukan itu tetap utuh.
Di Gereja Santo Gemma Galgani dan Gereja Santo Agustinus, Jumat (03/04/2026), umat datang dengan langkah tenang.
Sebagian membawa keluarga, sebagian lagi memilih duduk sendiri dalam keheningan.
Di pintu masuk, petugas kepolisian menyambut dengan tatapan sigap namun bersahabat memastikan setiap orang dapat beribadah tanpa rasa khawatir.
Bagi banyak orang, kehadiran polisi mungkin sekadar formalitas. Namun bagi mereka yang bertugas, ini adalah panggilan tanggung jawab.
Sejak pagi, personel Polres Ketapang telah menempati titik-titik pengamanan. Ada yang mengatur lalu lintas agar jemaat bisa menyeberang dengan aman, ada pula yang berdiri di sisi pintu gereja, mengawasi setiap pergerakan dengan penuh kewaspadaan.
Di sela tugas, beberapa petugas terlihat berinteraksi dengan warga. Senyum singkat, anggukan kepala, atau sekadar membantu menunjukkan arah parkir.
Interaksi sederhana ini menciptakan rasa dekat bahwa keamanan bukan hanya tentang pengawasan, tetapi juga tentang kehadiran yang menenangkan.
Perayaan Jumat Agung sendiri adalah momen sakral, ketika umat mengenang penderitaan dan wafatnya Yesus Kristus.
Di tengah suasana reflektif ini, keamanan menjadi fondasi penting agar ibadah dapat berlangsung tanpa gangguan.
Polisi tidak hanya menjaga secara kasat mata, tetapi juga melakukan patroli rutin dan deteksi dini untuk mengantisipasi potensi kerawanan.
Kapolres Ketapang, Muhammad Harris, melalui Kasi Humas IPTU Niptah Alimudin, menegaskan komitmen pihaknya untuk selalu hadir dalam setiap kegiatan masyarakat, terutama pada momentum keagamaan.
“Kami ingin memastikan seluruh umat dapat beribadah dengan aman dan nyaman,” ujarnya.
Menjelang sore, ibadah berangsur selesai. Jemaat keluar dengan wajah tenang, sebagian masih larut dalam perenungan. Di luar, aparat tetap siaga hingga kerumunan benar-benar terurai.
Di hari yang sarat makna pengorbanan ini, ada bentuk pengabdian lain yang tak selalu terlihat. Mereka tidak berada di altar, tidak pula dalam barisan jemaat.
Namun kehadiran mereka menjaga satu hal yang sama pentingnya: ketenangan, agar setiap doa dapat dipanjatkan tanpa rasa takut.