Di Bawah Langit yang Tak Kunjung Menurunkan Hujan

Di Bawah Langit yang Tak Kunjung Menurunkan Hujan
Dipimpin oleh ustad Deni Suprianto do'a istisqa dikumandangkan seraya memohon turunkan hujan. (Foto: Humas Polres Landak)

Landak-Spektroom : Pagi itu, langit di atas Kabupaten Landak tampak pucat.
Matahari belum sepenuhnya tinggi, tetapi hawa panas sudah terasa menekan.

Rumput di halaman Polres Landak menguning, sementara debu tipis beterbangan setiap kali angin berembus.

Di tengah musim kemarau yang berkepanjangan, puluhan pasang tangan terangkat ke langit, memanjatkan harapan yang sama: hujan.

Suasana Mendo'a di halaman mapolres Landak. (Foto: Humas Polres Landak)

Rabu (26/8/2026), suasana yang biasanya diisi apel dan aktivitas kepolisian berubah menjadi ruang doa bersama.

Seluruh personel Polres Landak berdiri berbaris di halaman apel.

Di antara mereka, tampak sekitar 20 anak dari sebuah pondok pesantren yang ikut bergabung. Tidak ada sirene, tidak ada suara komando.

Yang terdengar hanya lantunan takbir dan doa yang dipimpin Ustad Deni Suprianto dalam pelaksanaan Shalat Istisqa.

Di tengah ancaman kekeringan dan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menghantui berbagai wilayah Kalimantan Barat, doa menjadi bagian dari ikhtiar yang dipilih. Sebab, bagi banyak warga, kemarau bukan sekadar soal cuaca.

Ia berarti sumur yang mulai surut, lahan pertanian yang mengering, hingga kekhawatiran akan asap yang dapat kembali menyelimuti langit Kalimantan.

Kapolres Landak AKBP Devi Ariantari mengatakan, Shalat Istisqa bukan hanya ritual keagamaan, melainkan momentum untuk mengingatkan manusia akan keterbatasannya di hadapan alam dan Sang Pencipta.

"Kita memohon kepada Allah SWT agar diberikan hujan yang cukup, membawa keberkahan, serta dijauhkan dari berbagai dampak yang ditimbulkan akibat kondisi kemarau," ujarnya.

Bagi sebagian personel yang hadir, kegiatan itu menghadirkan suasana yang berbeda.

Mereka yang sehari-hari bertugas menjaga keamanan masyarakat kini berdiri sejajar, menundukkan kepala dalam harapan yang sama.

Tak ada pangkat, tak ada jabatan. Yang ada hanyalah manusia yang berharap langit segera membuka pintunya.

Kemarau yang panjang memang tidak bisa dihentikan hanya dengan doa. Namun bagi masyarakat Landak, doa adalah cara menjaga harapan tetap hidup ketika tanah mulai retak dan awan enggan datang.

Karena itu, selain memohon hujan, Polres Landak juga mengajak masyarakat menjaga lingkungan dan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan.

Saat doa-doa itu berakhir, langit masih tampak cerah. Belum ada tanda-tanda hujan akan turun. Namun di halaman Polres Landak pagi itu, setidaknya ada keyakinan yang terus dipelihara: bahwa setiap ikhtiar, sekecil apa pun, selalu memiliki tempat untuk sampai kepada langit.

Berita terkait

Putra Putri Pemkab Bogor Tampil Memukau di Summerfest XXIII Hungaria dan 25th Interetno Festival Serbia

Putra Putri Pemkab Bogor Tampil Memukau di Summerfest XXIII Hungaria dan 25th Interetno Festival Serbia

Bogor-Spektroom:Putra putri terbaik Kabupaten Bogor kembali membawa nama Indonesia ke panggung internasional. Bergabung dalam grup LUCI dan SSI (Studio Seni Indonesia), delegasi asal Kabupaten Bogor tampil diSummerfest XXIII di Hungaria dan 25th Interetno Festival di Serbia,memukau sekaligus memperkenalkan kekayaan seni dan budaya Indonesia dalam ajang festival budaya di

Asmari, Nurana Diah Dhayanti