Diguyur Hujan, Sepuluh Desa di Sidoarjo Kondisinya Paling Parah

Diguyur Hujan, Sepuluh Desa di Sidoarjo Kondisinya Paling Parah
Banjir yang terjadi di Desa Kendalpecabean menghambat aktivits warga / Foto : Humas pemda

Spektroom - Cuaca ekstrim yang terjadi di Indonesia berdampak diseluruh tanah air, begitu halnya yang terjadi di Kabupaten Sidoarjo Jawa Timur. Sidoarjo kini kembali lumpuh oleh banjir. Hujan deras yang mengguyur wilayah berjuluk Kota Udang ini terjadi sejak Kamis (25/12/2025) membuat sedikitnya sepuluh desa terendam air. Namun memaksa warga tidak tetap bertahan , dengan kondisi eumah memaksa yang dikepung genangan, bahkan sebagian harus mengungsi.

Bencana banjir menerjang Tujuh desa di Kecamatan Tanggulangin yaitu Kalidawir, Kedungbanteng, Banjarasri, Banjarpanji, Kalitengah, Boro, dan Ngaban tak luput dari kepungan air. Di Kecamatan Candi , banjir juga melumpuhkan Kalipecabean, Kendalpecabean, dan Balongabus. Sehingga Aktivitas warga tersendat, akibat jalan desa berubah menjadi kubangan.

Pelaksana Tugas Kepala BPBD Sidoarjo, Sabino Mariano, mengakui kondisi di lapangan genting. Sungai di Wlayah Hilir sudah penuh, membuat air hujan tak punya ruang untuk mengalir.

“Pompa kami nyalakan 24 jam. Penanganan harus cepat karena kapasitas sungai sudah mentok,” ujarnya, Jumat (26/12/2025) sore.

Namun hujan bukan satu - satunya Biang Kerok. Lambatnya pembangunan Rumah Pompa Kedungpeluk kembali menjadi sorotan. Proyek yang belum rampung itu disebut berkontribusi besar memperparah banjir. Air tak tertangani maksimal, sementara warga harus menanggung akibatnya.

“Kami berharap Rumah Pompa segera selesai dan bisa difungsikan. Selama belum rampung, banjir akan terus berulang,” kata Sabino.

BPBD, lanjut dia, menyiapkan bantuan Air Bersih dan Fasilitas MCK Darurat hingga Januari, sebagai solusi sementara yang jauh dari kata ideal.

Di Desa Kedungbanteng, kondisi paling parah. Air setinggi lutut menggenangi jalan dan masuk ke rumah warga hingga 5 –10 sentimeter. Kepala Desa Kedungbanteng, Budiono, terpaksa membuka Dua Posko pengungsian di Balai Desa dan TPQ Muhammadiyah.

“Ini banjir paling parah. Lebih parah dari tahun 2024,” tegas Budiono.

Pernyataan itu menjadi penegasan bahwa banjir di Sidoarjo bukan sekadar musibah alam, melainkan alarm keras atas persoalan tata kelola, infrastruktur setengah jadi, dan krisis penanganan banjir yang tak kunjung tuntas. (Agus Suyono)

Berita terkait