Feature: Menapak Jalan Panjang Untan Menuju Pengakuan Dunia
Spektroom - Di sebuah ruang rapat di lantai dua kampus Universitas Tanjungpura (Untan), lampu-lampu masih menyala hingga larut malam.
Di dalamnya, beberapa dosen dan pengelola program studi tampak serius menatap layar laptop masing-masing. Tumpukan berkas, draft laporan, dan catatan revisi memenuhi meja.
Suasana itu mungkin tampak biasa bagi sebagian orang, tetapi bagi mereka, malam-malam panjang itu adalah bagian dari sebuah perjalanan besar: mendorong Untan menuju panggung pendidikan global.
Tak banyak mahasiswa yang tahu bahwa perjuangan untuk memperoleh akreditasi internasional bukan sekadar urusan administrasi, melainkan kerja kolektif yang melibatkan ketelitian, strategi, dan ketangguhan mental.
“Kita harus melalui proses yang sangat detail. Setiap data, setiap bukti, diteliti ulang,” kata seorang dosen yang menjadi bagian dari tim penyusun borang. Ada rasa letih, tetapi juga tekad yang tak pernah padam.
Perjalanan itu akhirnya membuahkan hasil.
Tanggal itu menjadi momen yang tak akan dilupakan: sebanyak 13 program studi dari rumpun ilmu ekonomi, sosial, dan hukum resmi memperoleh akreditasi internasional dari Accreditation, Certification and Quality Assurance Institute (ACQUIN).
Nama-nama program studi itu membentang dari strata satu hingga doktor - S1 Ilmu Hukum, S1 Administrasi Publik, S1 Sosiologi, hingga Doktor Manajemen dan Doktor Ilmu Ekonomi. Semuanya dinyatakan memenuhi standar mutu internasional.
Bagi Rektor Untan, Prof. Dr. Garuda Wiko, pencapaian ini bukan sekadar prestasi administratif. Ia adalah bukti transformasi yang sedang berlangsung di kampus yang berdiri sejak 1959 itu. “Kita telah melewati berbagai tahapan dengan kerja keras yang akhirnya membuahkan hasil malam ini,” ujarnya.
Nada suaranya menyiratkan kebanggaan tersendiri. Di balik kalimat singkat itu, ada perjalanan panjang yang disaksikan sendiri olehnya.
Di sisi lain, Lembaga Pengembangan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (LP2MP) menjadi dapur besar dari seluruh proses tersebut.
Prof. Dr. Sulistyarini, yang memimpin lembaga itu, menyebut akreditasi internasional sebagai titik tolak baru bagi Untan. “Ini bukan sekadar pengakuan, tapi dorongan untuk kita terus memperkuat kualitas layanan pendidikan,” katanya.
Baginya, akreditasi tidak berhenti pada sertifikat;
Ia mengandung konsekuensi: memperbaiki, menyesuaikan, dan kembali mengevaluasi kualitas akademik secara berkelanjutan.
Keuntungan dari akreditasi ini pun tidak sedikit. Program studi yang terakreditasi internasional membuka pintu jejaring lebih luas—mulai dari peluang pertukaran pelajar, kolaborasi riset, hingga pengembangan kurikulum bersama universitas luar negeri.
“Kita dapat masuk dalam jejaring internasional untuk berbagai aktivitas tridarma,” tambah Prof. Sulistyarini.
Namun, yang mungkin luput dari perhatian adalah gelombang semangat baru yang kini mulai terlihat di lingkungan kampus.
Setelah 13 program studi berhasil lolos, lima prodi lain dari bidang sains sedang bersiap menuju akreditasi berikutnya oleh ASIIN. Para dosen dan tim prodi kembali berkutat dengan dokumen, menyusun data, dan memperbaiki instrumen penilaian. Seolah capaian sebelumnya menjadi energi untuk melangkah lebih jauh.
Di balik hiruk-pikuk persiapan itu, tersimpan satu keyakinan:
Untan harus terus bergerak.
Kampus yang selama ini dikenal sebagai perguruan tinggi kebanggaan Kalimantan Barat itu kini memposisikan diri dalam persaingan global.
Akreditasi internasional bukanlah garis finish, melainkan bagian dari perjalanan panjang menuju universitas berkelas dunia.
Dan ketika pagi tiba, mahasiswa kembali memenuhi kelas-kelas. Mereka mungkin tidak menyadari detail kerja keras para dosen dan pengelola program studi.
Namun satu hal pasti: mereka kini belajar di kampus yang sedang menapaki jalan global, membuka peluang lebih luas bagi generasi muda Kalimantan untuk terbang lebih jauh.
Di koridor kampus, embun pagi mulai menguap. Tetapi jejak langkah menuju mutu pendidikan internasional itu masih terus terasa - menguat, mengakar, dan bergerak maju. Untan telah memulainya, dan perjalanan ini masih jauh dari kata selesai.
(Feature oleh: Apollonius Welly/Wartawan Spektroom)