Fenomena Unjuk Rasa: Mahasiswa Jadi Mahasewa, Aspirasi Bergeser Dari Isi Hati
Jakarta - Spektroom : Ada hal yang menarik pada acara Puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII di Kabupaten Gorontalo, Rabu (24/6/2026), bukan karena banyaknya petani dan nelayan yang tumplek blek di halaman GOR David-Tony Limboto.
Namun pada sambutan Prabowo, yang mengaku mengetahui pihak-pihak yang diduga berada di balik pendanaan sejumlah aksi demonstrasi.
Ucapan tersebut langsung memancing sorakan, tepuk tangan, hingga gelak tawa para hadirin. Bahkan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi yang berada di kegiatan tersebut tampak ikut tertawa sambil menggelengkan kepala saat mendengar pernyataan Presiden.
Video Source YouTube Sekretariat Presiden
Prabowo mengatakan dirinya telah mengetahui siapa saja pihak yang diduga membiayai aksi-aksi unjuk rasa tersebut. Ia pun menyampaikan peringatan terbuka.
"Hati-hati loh, saya kasih peringatan mereka-mereka itu. Saya tahu siapa yang bayar-bayar demo, gue tahu itu," kata Prabowo.
Pada kesempatan itu, Prabowo juga menyinggung fenomena peserta demonstrasi yang disebut ikut aksi tanpa memahami substansi tuntutan yang disuarakan. Menurutnya, ada peserta yang hanya datang karena menerima bayaran.
Betapa tidak? Gelombang demonstrasi yang terus berlangsung belakangan ini seakan menjadi cermin wajah demokrasi kita, memperlihatkan adanya keresahan yang tumbuh di masyarakat, tentang kebijakan yang dianggap merugikan, ketidakadilan yang dirasakan, hingga tuntutan perubahan yang terus disuarakan.
Namun, di balik riuhnya massa di jalanan, muncul pertanyaan yang tak kalah penting: apakah demonstrasi benar-benar lahir murni dari suara rakyat, atau ada skenario besar yang mengaturnya?
Media dan ruang digital memainkan peran vital dalam menjawab pertanyaan itu. Kamera, headline, dan potongan video di media sosial mampu mengubah demonstrasi dari sekadar aksi lokal menjadi drama nasional.
Framing yang dipilih media bisa menampilkan wajah demo sebagai perjuangan heroik, tetapi bisa juga menggarisbawahi sisi anarkis dan menakutkan. Inilah yang membuat publik sering terbelah: apakah kita sedang menyaksikan perjuangan tulus, atau sekadar sebuah panggung kekuasaan yang diatur dengan rapi.
Tidak saja itu, usai unjuk rasa tetiba muncul kelompok mahasiswa yang menamakan diri "Aliansi BEM Bersatu" dan menjadi highlight warganet.
Alih-alih membuat tuntutan dan melontarkan kritik terkait kebijakan pemerintah, mereka justru menuding "sejumlah aksi mahasiswa belakangan ini mulai kehilangan arah".
Aliansi BEM Bersatu menuding salah satu pimpinan demonstrasi sekaligus mantan ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, memiliki kaitan dengan PDI Perjuangan (PDIP)–tuduhan yang telah dibantah partai berkepala banteng.
Kontroversi lainnya, Aliansi BEM Bersatu juga mendukung keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kontroversial.
Bahkan analisis Monash University Indonesia menilai, kehadiran Aliansi BEM Bersatu disambut secara negatif oleh warganet.
Tim analis media sosial kampus ini mempelajari unggahan demonstrasi mahasiswa yang dimulai sejak harga Pertamax naik, hingga wacana seputar "mahasewa" dengan tuduhan kelompok mahasiswa tertentu didanai untuk mengganggu aktivisme yang asli.
Aksi unjuk rasa mahasiswa belakangan ini juga disebut mendapat respons "penyangkalan dan disinformasi".
Sejarah mencatat mahasiswa sebagai agen perubahan. Mereka punya legitimasi moral. Mereka punya kekuatan mobilisasi. Langkah mereka dihargai sebagai nurani publik.
Masyarakat menaruh harapan besar kepada mereka. Karena mahasiswa dianggap belum terkontaminasi politik praktis.
Tetapi ada titik rapuh di sana. Idealisme bisa dengan mudah dibajak.
Masalah dimulai saat gerakan disulut emosi. Lalu, dikendalikan oleh framing. Nalar kritis diganti sentimen kelompok. Gerakan suci bergeser menjadi komoditas politik. Siap dijual kepada penawar tertinggi.
Fenomena useful idiot bukan soal kebodohan akademik. Ini soal perilaku. Ini soal psikologi massa. Seseorang bisa jadi sangat pintar. IPK mereka bisa sempurna. Mereka bisa memimpin organisasi besar. Namun, mereka tetap menjadi pion agenda orang lain.
Mereka bergerak dengan keyakinan penuh. Mereka merasa sedang membela kebenaran. Padahal, mereka hanya mengamplifikasi kepentingan elit. Ini ironis.
Pendek kata, aspirasi yang mengatasnamakan rakyat sejatinya harus murni keluar dari hati bukan berlandaskan pada pesanan dari kelompok atau beberapa gelintir elite yang punya kepentingan terhadap issue yang diangkat oleh mahasiswa yang kemudian diplesetkan menjadi mahasewa.
Ya, itulah fenomena unjuk rasa Mahasiswa berubah jadi Mahasewa, itulah kenyataannya, aspirasi melenceng dari isi hati. (@Ng).