Gelar Festival Seni & Tradisi, Pemprov Sumsel Gerakan Roda Ekonomi Masyarakat

Gelar Festival Seni & Tradisi, Pemprov Sumsel Gerakan Roda Ekonomi Masyarakat
Flyer Diskominfo Sumsel

Jakabaring - Spektroom: Festival seni adat & tradisi Sumatra Selatan tahun 2026 yang berlangsung di Anjungan Sumatera Selatan, di Jakabaring Palembang, adalah sebagai wujud komitmen dan kecintaan warga Sumatera Selatan dalam melestarikan kekayaan warisan budaya  daerahnya.

Tari Setabik Tarian Khas Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), tarian sambutan selamat datang. (Foto Capture YouTube Kemenfo Sumsel).

Digelarnya Festival ini antara lain bertujuan untuk mengangkat kembali persona seni dan  tradisi dan kearifan lokal di panggung yang lebih luas, sekaligus menggerakkan roda ekonomi kreatif masyarakat melalui pemberdayaan produk-produk lokal.


"Acara ini diselenggarakan sebagai wujud komitmen dan kecintaan kita dalam melestarikan kekayaan warisan budaya Sumatera Selatan, bertujuan untuk mengangkat kembali persona seni ada tradisi dan kearifan lokal kita ke panggung yang lebih luas, sekaligus menggerakkan roda ekonomi masyarakat melalui pemberdayaan produk-produk lokal" ujar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel Budi Irawan, di Palembang Rabu (24/6/2026).



Menurut Budi Irawan, selama dua hari ke depan,  24 Juni sampai dengan 25 Juni di Area Dekaranasda Sumatera Selatan, berbagai adat seni tradisi dari 17 kabupaten kota Sumatera Selatan akan ditampilkan.


"Kegiatan festival seni tradisi dan adat Sumatera Selatan akan diselenggarakan selama dua hari, yaitu pada tanggal 24 sampai dengan 25 Juni 2026 dan akan berlangsung di anjungan Provinsi Sumatera Selatan, dekaran Nasda Jakabaring, Palembang.


Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara pemerintah Provinsi Sumatera Selatan melalui dinas kebudayaan dan pariwisata dengan dekaranasda Provinsi Sumatera Selatan dalam rangka melestarikan budaya, adat, dan tradisi daerah. 



"Festival ini diikuti oleh 17 kabupaten kota dengan rincian 14 kabupaten kota mengikuti festival anjungan, yaitu melalui penataan anjungan atau home decor yang menampilkan kehasan budaya, kerajinan, dan identitas masing-masing kabupaten kota. Selain itu, festival ini menampilkan beragam pertunjukan seni dan tradisi dari 16 kabupaten kota yang sudah akan tampil di hari kedua besok" rinci Budi Irawan.


Berbagai pertunjukan yang ditampilkan meliputi tari tradisional, lagu daerah, sastra tutur, seni musik tradisional, seni bela diri tradisional, hingga sendratari  yang mencerminkan kekayaan budaya Provinsi Sumatera Selatan. 



Budi Irawan menambahkan Festival ini digelar juga dalam rangka meningkatkan pemahaman dan kecintaan masyarakat terhadap budaya daerah, dengan menghadirkan workshop membatik aksara ulu dan workshop tari gending Sriwijaya yang melibatkan masyarakat, pelajar, mahasiswa, serta pegiat budaya. 


Selain itu, kegiatan Tari Bersama Serampang 12 turut dilaksanakan sebagai sarana mempererat silaturahmi dan kebersamaan antar peserta festival serta masyarakat.



Festival seni adat & tradisi Sumatra Selatan tahun 2026, melibatkan 20 pelaku UMKM yang memasarkan berbagai produk unggulan daerah sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya. 



"Melalui kegiatan ini, diharapkan dapat memperkuat identitas budaya daerah, meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap seni dan tradisi lokal, serta menjadi sarana promosi budaya Sumatera Selatan kepada masyarakat luas" ucap Budi Irawan berharap.



Sementara ditempat yang sama Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah Sumatera Selatan Feby Herman Nderu menyampaikan budaya dan kerajinan merupakan dua hal yang sangat berkaitan, banyak produk kriya dan kerajinan unggulan daerah yang lahir dari inspirasi budaya lokal, baik berupa motif ornamen, simbol, maupun filosofi yang terkandung di dalamnya. 

audio-thumbnail
Dekranasda Feby HN
0:00
/75.16425

"Karena itu, pelestarian budaya tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga mengembangkan ekonomi, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sumatera Selatan. Caranya dengan mendorong mengembangkan produk kerajinan berbasis lokal" ujar Feby mengingatkan.



Meski Anjungan Sumatera Selatan telah berdiri selama 12 tahun namun Feby menyayangkan ada beberapa anjungan kabupaten kota yang belum optimal. Padahal setiap anjungan merupakan representasi wajah dan kebanggaan daerah masing-masing. 



"Di sana (Anjungan : red) ada kekhasan budaya, sejarah, arsitektur, kerajinan, serta karakter masyarakat dari masing-masing kabupaten dan kota. Oleh karena itu, melalui Momentum Festival ini, saya mengajak seluruh pemerintah, kabupaten, dan kota untuk kembali memberi perhatian yang lebih besar terhadap anjungan daerah masing-masing" ujarnnya lagi.



Feby Herman Nderu juga berharap ke depan setiap anjungan dapat dijaga, dirawat, dimanfaatkan, dan menjadi tanggung jawab kita bersama. 



"Marilah kita jadikan anjungan daerah sebagai etalase budaya yang hidup dan aktif, sehingga siapapun yang datang dapat melihat secara langsung keberagaman budaya Sumatera Selatan dalam kondisi yang baik, representatif, dan membanggakan" ajak Feby mengakhiri sambutannya.(@Ng).

Berita terkait

Kejurnaswil Kempo di Sawahlunto, PB Perkemi : Kami Ingin Banyak Kejuaraan Daerah Bertaraf Nasional

Kejurnaswil Kempo di Sawahlunto, PB Perkemi : Kami Ingin Banyak Kejuaraan Daerah Bertaraf Nasional

Sawahlunto-Spektroom : Sebanyak 426 atlet kempo atau kenshi dari 29 kabupaten/kota di pulau Sumatera mulai bertanding dalam Kejuaraan Nasional Wilayah (Kejurnaswil) Shorinji Kempo se Sumatera yang digelar di Kota Sawahlunto, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), Rabu, 24 Juni 2026. Saat membuka Kejurnaswil Shorinji Kempo Sumatera, Ketua Umum Pengurus Besar Persaudaraan Shorinji

Diah Utami, Rafles
BKMT Kota Sawahlunto Gelar Pekan Muharram 1448 H, Perkuat Syiar Islam dan Kebersamaan Umat

BKMT Kota Sawahlunto Gelar Pekan Muharram 1448 H, Perkuat Syiar Islam dan Kebersamaan Umat

Sawahlunto–Spektroom : Dalam rangka menyemarakkan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Kota Sawahlunto menggelar rangkaian kegiatan Pekan Muharram 1448 H yang berlangsung mulai 23 Juni hingga 10 Juli 2026. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat syiar Islam, meningkatkan pemahaman keagamaan, serta mempererat tali silaturahmi antar-majelis

Riswan Idris, Julianto