GPM Masuk Babak Baru, Keluarga dan Sampah Jadi Ujian Pelayanan
Ambon-Spektroom: Gereja Protestan Maluku (GPM) memasuki babak baru pelayanannya pada 2026. Melalui rangkaian sidang di 34 klasis yang mulai bergulir sejak Februari, gereja terbesar di Maluku itu menempatkan penguatan keluarga dan persoalan sampah sebagai ujian nyata panggilan iman di tengah masyarakat.
Ketua Majelis Pekerja Harian (MPH) Sinode GPM, Pdt. Sacharias Izack Sapulette, mengatakan siklus persidangan klasis merupakan tindak lanjut keputusan Persidangan Sinode ke-39 pada Oktober 2025. Sidang ini menjadi ruang bagi setiap klasis menerjemahkan visi-misi dan arah pengembangan pelayanan GPM 2025–2035, menuju satu abad pelayanan gereja.
“Sidang klasis bukan sekadar agenda rutin. Di situ arah pelayanan dijabarkan sesuai konteks masing-masing wilayah,” kata Sapulette saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (2/3/2026).
Sejumlah klasis telah menggelar sidang, di antaranya Pulau Ambon, Buru Utara, dan Pulau Ambon Timur. Mulai 8 Maret, sidang berlanjut di Kota Ambon, Pulau-Pulau Lease, Kei Kecil, Kota Tual, dan wilayah lainnya.
Rangkaian ini ditargetkan rampung akhir April atau awal Mei, dengan penyesuaian kondisi geografis kepulauan serta transportasi laut.
Dalam babak pelayanan terbaru ini, GPM memberi perhatian serius pada keluarga sebagai eklesia domestika atau gereja kecil. Menurut Sapulette, keluarga menjadi fondasi utama pembentukan iman, karakter dan ketahanan sosial jemaat.
“Kalau keluarga kuat, gereja juga kuat. Banyak tantangan hari ini justru bermula dari rapuhnya keluarga,” ujarnya.
Selain itu, isu lingkungan khususnya sampah muncul sebagai pergumulan bersama di banyak klasis, terutama wilayah perkotaan. Produksi sampah yang tinggi dinilai berdampak pada kualitas hidup dan daya dukung lingkungan.
Baginya sampah tidak hanya menjadi urusan pemerintah. Gereja merasa terpanggil mengedukasi jemaat untuk membangun kebiasaan hidup bersih, termasuk membuang sampah pada tempat dan waktu yang tepat.
“Kita dorong sinergi dengan pemerintah daerah. Gereja harus ikut menjaga kualitas lingkungan demi kehidupan bersama,” katanya.
Selain keluarga dan lingkungan, sidang klasis juga membahas pemberdayaan ekonomi jemaat, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, pelayanan berbasis digital, serta penguatan relasi oikumenis dan lintas iman di Maluku dan Maluku Utara.
Melalui sidang-sidang ini, GPM ingin memastikan bahwa memasuki dasawarsa kelima pelayanannya, gereja tidak hanya berbicara dari mimbar, tetapi hadir menjawab persoalan riil umat dari rumah tangga hingga sampah yang menumpuk di sudut kota.(EM)