Gubernur Kalteng Dorong GMNI Jadi Motor Solusi Tambang Rakyat Berkeadilan
Palangka Raya-Spektroom : Perayaan Dies Natalis ke-72 Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kalimantan Tengah di Palangka Raya, Sabtu (29/03/2026), berubah menjadi forum strategis membahas masa depan pertambangan rakyat.
Hadirnya Gubernur Kalteng Agustiar Sabran dan Kapolda Kalteng Irjen Pol Iwan Kurniawan memberi bobot lebih pada diskusi yang menyoroti regulasi, dampak lingkungan, hingga penataan tambang berkeadilan bagi masyarakat.
Kapolda Kalteng Irjen Pol Iwan Kurniawan mengungkapkan secara blak-blakan kondisi di lapangan. Ia menegaskan bahwa sektor tambang memang menjadi salah satu penopang ekonomi nasional, namun menyimpan persoalan serius yang tak lagi bisa disembunyikan.
“Sektor pertambangan ini adalah salah satu pilar ekonomi negara,” ujarnya.
Namun, ia menyoroti problem berulang yang masih terjadi: tambang ditinggalkan tanpa reklamasi, lingkungan rusak, dan kualitas air sungai yang semakin buruk.
“Banyak tambang ditinggal begitu saja, tanpa reklamasi. Dampaknya jelas, lingkungan rusak,” tegasnya.
Kapolda mendorong seluruh pemangku kepentingan, termasuk GMNI, untuk tidak berhenti pada diskusi. Ia bahkan membuka opsi aksi konkret dengan turun langsung meninjau kondisi riil tambang rakyat di Kalteng.

Sementara itu, Gubernur Kalteng Agustiar Sabran menegaskan bahwa penyelesaian persoalan tambang rakyat membutuhkan kemauan bersama.
“Kalau kita ada niat dan common will, tidak ada yang tidak mungkin,” ucapnya.
Gubernur juga memberi ruang seluas-luasnya bagi mahasiswa untuk bersuara kritis, selama kritik tersebut disertai tawaran solusi.
“Kami minta demo, tapi demo yang membangun. Kritik boleh, tapi kasih solusi,” tegasnya.
Terkait penguatan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR), Agustiar menyampaikan komitmen Pemprov untuk mempercepat legalitas dan penataan, termasuk menjadwalkan kembali koordinasi dengan pemerintah pusat dalam waktu dekat.
“Kalau WPR terbuka, yang lain akan lebih mudah ditata,” katanya.
Ia turut mendorong pembentukan koperasi sebagai model pengelolaan tambang rakyat agar manfaatnya tidak hanya dikuasai segelintir pihak, tetapi dapat dirasakan secara kolektif oleh masyarakat.
Dies Natalis ke-72 GMNI kali ini menegaskan bahwa generasi muda tidak hanya hadir sebagai pengamat, tetapi mulai masuk ke isu-isu strategis pembangunan daerah. Kolaborasi antara pemerintah, aparat, dan mahasiswa menjadi kunci penataan pertambangan rakyat ke depan.
Jika berjalan sendiri-sendiri, persoalan tambang akan tetap menjadi beban. Namun jika bergerak bersama, peluang menghadirkan tambang rakyat yang legal, tertata, dan berkeadilan semakin terbuka lebar.(polin.TRA/TND)