Gunung Marapi di Agam Meletus, Dentuman dan Kilatan Api Kejutkan Warga, Abu Capai Payakumbuh
Agam-Spektroom : Gunung Marapi yang berada di wilayah Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, meletus pada Sabtu malam, 14 Maret 2026 sekitar pukul 23.29 WIB. Letusan tersebut mengejutkan warga karena diawali dentuman keras yang terdengar hingga permukiman di sekitar kaki gunung, disusul kilatan api dan lontaran lava pijar dari kawah.
Sejumlah warga mengaku terkejut ketika dentuman kuat mengguncang suasana malam. Getaran bahkan sempat membuat kaca rumah bergetar di beberapa wilayah yang berjarak beberapa kilometer dari gunung.
Hatta Rizal, warga Jorong Cangkiang, Nagari Batu Taba, Kabupaten Agam, yang berjarak sekitar sembilan kilometer dari kawah, mengatakan dentuman keras membuatnya langsung keluar rumah.
“Usai terjadi dentuman, saya lari ke luar rumah karena sudah tahu gunung meletus. Di luar saya menyaksikan pemandangan menakjubkan berupa guguran dan kilatan api,” kata Hatta.
Fenomena serupa juga terlihat oleh warga lain di sekitar kaki Gunung Marapi. Rahmadoni, warga Bukik Batabuah, menyebut kilatan api dari kawah terlihat cukup jelas meski cuaca sedang diguyur hujan.
“Baru sekali ini saya melihat langsung letusan dengan kilatan api seperti ini. Ada beberapa warga yang juga melihat hal serupa,” ujarnya.
Suara gemuruh dari arah gunung juga dilaporkan terdengar di sejumlah daerah lain. Zulhendri Kayo, warga Sungai Pua, mengaku masih mendengar gemuruh beberapa saat setelah dentuman pertama.
Sementara itu, Noviardi, warga Canduang, mengatakan wilayahnya juga mendengar suara yang diduga berasal dari letusan Gunung Marapi. Namun karena saat itu turun hujan, arah sumber suara tidak terlalu jelas.
“Di tempat kami juga terdengar seperti letusan. Karena hujan, arah sumber suara tidak begitu jelas. Semoga tidak menjadi bencana,” katanya.
Sekitar satu jam setelah erupsi, sejumlah wilayah di bagian barat daya Gunung Marapi dilaporkan mengalami hujan yang bercampur abu vulkanik. Noviardi menyebut air hujan yang tertampung di tempat penampungan berubah keruh akibat campuran abu.
“Di sini sedang turun hujan yang sekaligus membawa abu vulkanik. Air yang tertampung terlihat keruh,” ujarnya.
Hujan abu dilaporkan terjadi di sejumlah kecamatan, antara lain Canduang, Ampek Angkek, Banuhampu, Sungai Pua, hingga Baso. Sebaran abu vulkanik bahkan dilaporkan mencapai wilayah Payakumbuh yang berada cukup jauh dari pusat erupsi.
Berdasarkan informasi Meteorological Early Warning System (MEWS) BMKG Sumatera Barat, abu vulkanik dari letusan Marapi terbawa arah angin menuju barat daya dengan kecepatan sekitar lima knot.
Data Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Marapi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat erupsi terjadi pada pukul 23.29 WIB. Aktivitas tersebut terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30,2 milimeter dan durasi sekitar tiga menit 21 detik. Tinggi kolom abu tidak teramati saat letusan berlangsung.
Dalam laporan aktivitas harian Gunung Marapi periode 14 Maret 2026, tercatat satu kejadian letusan dengan amplitudo 30,2 milimeter dan durasi 201 detik. Selain itu juga terekam tiga tremor non-harmonik, satu gempa vulkanik dangkal, satu gempa vulkanik dalam, serta empat gempa tektonik jauh.
Gunung Marapi yang memiliki ketinggian 2.891 meter di atas permukaan laut saat ini masih berada pada status Level II atau Waspada. PVMBG merekomendasikan masyarakat, wisatawan, maupun pendaki tidak memasuki radius tiga kilometer dari pusat aktivitas di Kawah Verbeek.
Masyarakat yang bermukim di sekitar lembah dan aliran sungai yang berhulu dari puncak Marapi juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lahar, terutama saat musim hujan. Warga di sekitar gunung juga diimbau menggunakan masker serta perlindungan mata dan kulit untuk menghindari dampak abu vulkanik. (Rit-Rz-Wyu)