Guru Top 50 Global Teacher Prize Hadir di Balikpapan, MTsN 2 Menjelajahi Kurikulum Berbasis Cinta

Guru Top 50 Global Teacher Prize Hadir di Balikpapan, MTsN 2 Menjelajahi Kurikulum Berbasis Cinta
Sebanyak 40 guru mengikuti In House Training dengan antusias. (dok humas MTsN 2 Balikpapan)

Spektroom – Selama dua hari, 18–19 November 2025, MTs Negeri 2 Balikpapan menghadirkan suasana belajar yang berbeda melalui pelaksanaan In House Training (IHT) bertema “Menjelajahi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) feat Deep Learning.” Bertempat di Gedung Siskohat Embarkasi Haji Balikpapan, 40 guru mengikuti kegiatan ini dengan penuh antusias.

Semangat mereka makin menyala karena pelatihan menghadirkan pendidik kelas dunia: Hj. Dayang Suryani—Miss Dayang—finalis Top 50 Global Teacher Prize 2017.

IHT ini menjadi ruang refleksi bagi para guru, sekaligus ajang menapaki perjalanan menantang menuju pembelajaran berbasis cinta—sebuah pendekatan yang tidak instan namun kaya makna.

Pelatihan Dibuka dengan Pesan Menggetarkan untuk Para Guru

IHT resmi dibuka oleh Pengawas MTs, Nanik Mutiani, S.Pd., M.Pd., mewakili Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Balikpapan. Suasana semakin mengarah ketika Kepala MTsN 2 Balikpapan, Sahri Romadi, S.Pd., menyampaikan fondasi kuat pelatihan.

“Kami berharap Bapak dan Ibu Guru sekalian dapat menjadi guru yang mumpuni. Kunci utamanya adalah mampu memahami atmosfer kelas secara mendalam, sehingga setiap pendidik dapat mengaplikasikan teknik mengajar yang paling tepat dan relevan bagi peserta didik kita,” ujarnya.

Pesan itu seolah palu pertama yang mengetuk pintu kesadaran: guru bukan hanya pengajar, tetapi penghela suasana belajar yang penuh kepekaan.

Miss Dayang: Kelas Milik Siswa, Guru Hadir dengan Cinta

Memasuki sesi utama, Miss Dayang memperkenalkan filosofi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC)—pendekatan yang menempatkan empati, relasi positif, dan kedalaman berpikir sebagai inti pembelajaran. Ia mengingatkan guru pada esensi yang kadang terlupakan: kelas bukan milik guru, tetapi milik siswa.

“Proses pembelajaran harus dijadikan student-centered learning sehingga mereka antusias dan terlibat langsung dalam proses belajar mengajar,” tegasnya.

Ungkapan itu bukan sekadar teori. Ia menjadi penanda perubahan paradigma: dari mengajar materi menjadi menghidupkan proses, dari instruksi menjadi inspirasi.

Praktik, Diskusi, dan Simulasi: Guru Menyulam Cinta ke Dalam Kelas

Para guru kemudian terjun dalam sesi praktik. Mereka menyusun perangkat ajar yang memadukan nilai cinta, empati, dan pendekatan pembelajaran mendalam. Diskusi berlangsung cair, simulasi terasa hidup, dan setiap kelompok berupaya menerjemahkan konsep KBC ke dalam tindakan nyata—mulai dari desain aktivitas, penataan ruang, hingga strategi membangkitkan rasa ingin tahu siswa.

Masing-masing guru pulang dengan bekal baru: bahwa mengajar dengan cinta bukan kelembutan kosong, tetapi strategi kuat untuk menumbuhkan karakter dan kecerdasan siswa secara utuh.

IHT ini menjadi langkah penting MTsN 2 Balikpapan dalam menapaki rute menuju pendidikan yang lebih manusiawi. Kurikulum Berbasis Cinta bukan hanya konsep, tetapi kompas yang menuntun para guru melihat siswa sebagai manusia yang tumbuh, bukan sekadar penerima materi.

Dengan kehadiran narasumber kelas dunia dan komitmen para pendidik, perjalanan menuju “kelas penuh cinta” kini terasa semakin nyata.(Polin – Mr. B)

Berita terkait