Gus Dur Menyatukan Kota Batu: Buruh, Budaya, dan Doa Lintas Iman Menggema di Haul ke-16

Gus Dur Menyatukan Kota Batu: Buruh, Budaya, dan Doa Lintas Iman Menggema di Haul ke-16
Rapat persiapan penyelenggaraan Haul Gus Dur di Batu

Spektroom – Semangat kebersamaan, toleransi, dan perjuangan kemanusiaan kembali menguat di Kota Batu. Menjelang peringatan Haul KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ke-16, berbagai elemen masyarakat lintas organisasi dan komunitas menggelar rapat koordinasi di Kantor DPC K-SARBUMUSI NU Kota Batu, Jumat Pahing (26/12/2025).

Rapat tersebut menjadi momentum konsolidasi besar yang mempertemukan organisasi buruh, komunitas seni-budaya, lembaga pendidikan, ormas keagamaan, hingga forum lintas agama. Dalam pertemuan itu, panitia menetapkan puncak Haul Gus Dur ke-16 akan dilaksanakan pada Jumat Legi, 2 Januari 2026, bertempat di depan Gedung PCNU Kota Batu, Jalan Agus Salim.

Sejumlah elemen yang hadir antara lain DPC K-SARBUMUSI NU Kota Batu, Basis Sarbumusi Pengobatan Tradisional Reh Wongsonegoro, Basis Sarbumusi KGB I, Basis Sarbumusi Informal Merah Putih, Basis Sarbumusi UMKM Kuliner Nusantara, KOPBUMI, JPZIS LAZISNU Sarbumusi, LP Ma’arif, Banser, Komnas PA, NGG, Persatuan Terbang Jidor Putri, Komunitas Paduan Suara, FKUB, Satupena, Taman Siswa serta komunitas lainnya.

Sarbumusi Tegaskan Gus Dur Bapak Kaum Buruh

Ketua DPC K-SARBUMUSI NU Kota Batu, Rudianto, S.Pd., S.H., M.AP., menegaskan bahwa Gus Dur merupakan figur pemersatu yang memiliki kedekatan kuat dengan kaum buruh dan rakyat kecil.

"Gus Dur adalah Bapak Kemanusiaan dan Bapak Kaum Buruh. Sarbumusi memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga dan menghidupkan nilai-nilai perjuangan beliau. Kantor ini kami buka sebagai posko pergerakan demi menyukseskan Haul Gus Dur secara totalitas,” tegas Rudianto di hadapan peserta rapat.

Usung Filosofi Rakyat: “Ugo Rampe Podo Teko”

Ketua Panitia Haul Gus Dur ke-16, Yuli Efendi Mas’ud, S.Pd.I., menjelaskan bahwa konsep acara mengusung filosofi “Ugo Rampe Podo Teko”, yang bermakna keterlibatan bersama tanpa sekat.

“Haul ini adalah milik rakyat. Siapa pun yang hadir dipersilakan membawa kontribusi terbaiknya, baik tenaga, pikiran, maupun logistik secara swadaya atau ‘Bumbu Podo Moro’. Inilah praktik nyata nilai toleransi dan gotong royong ala Gus Dur di Kota Batu,” ujar Yuli Efendi.

Acara dijadwalkan dimulai pukul 12.30 WIB dengan rangkaian kegiatan budaya, religi, dan kebangsaan.
Kirab Budaya Gus Dur dan Prosesi Penyerahan Patung
Agenda utama yang menjadi sorotan adalah Kirab Gus Dur Pahlawan Nasional. Koordinator Kirab, Sujianto, S.H., S.Pd., M.Pd., akan memimpin pergerakan massa yang melibatkan Basis Sarbumusi Reh Wongsonegoro, Basis Sarbumusi KGB, Pasukan IPNU–IPPNU, serta pleton dari berbagai ormas.

Dalam kirab tersebut, panitia juga merencanakan prosesi penyerahan Patung Gus Dur sebagai simbol penghormatan atas jasa dan keteladanan beliau bagi bangsa dan negara.

Panggung Inklusif, Seni, dan Doa Lintas Agama

Rangkaian acara Haul Gus Dur ke-16 dirancang inklusif dan mencerminkan keberagaman Kota Batu. Susunan acara meliputi:
Seni Tradisi: Penampilan Persatuan Terbang Jidor Putri selama dua jam.
Seni dan Literasi: Paduan suara anak-anak, pembacaan puisi oleh Satupena, serta Tilawatil Qur’an.

Religi dan Moderasi: Tahlil, Istighosah, dan Doa Bersama Lintas Agama yang difasilitasi oleh FKUB, sebagai simbol nyata harmoni antarumat beragama.
Koordinasi Perizinan dan Dukungan Akar Rumput
Mengingat lokasi acara berada di jalur utama kota, panitia akan segera melakukan koordinasi teknis dengan RT/RW setempat, Kepolisian, dan Dinas Perhubungan terkait pengaturan lalu lintas, penutupan jalan, dan kantong parkir.

Undangan resmi juga akan dikirimkan kepada Wali Kota dan Wakil Wali Kota Batu, Forkopimda, serta tokoh lintas organisasi. Dukungan operasional seperti sound system dipastikan berasal dari komunitas sound system lokal, menegaskan bahwa Haul Gus Dur ke-16 di Kota Batu digerakkan sepenuhnya oleh kekuatan akar rumput.

Peringatan ini diharapkan tidak hanya menjadi seremoni, tetapi juga ruang refleksi dan aksi nyata untuk merawat nilai kemanusiaan, keadilan, dan toleransi sebagaimana diwariskan Gus Dur..

Berita terkait