Halal Bilhalal PP RRI Bandarlampung Hadirkan Ustadz Maulana Muzzakir
Bandarlampung - Spektroom : Halal bihalal adalah tradisi unik Indonesia yang bermula dari kata Arab ‘halal’ yang berarti diizinkan atau sah.
Halal bihalal tidak hanya menjadi wujud dari silaturahmi tetapi juga sebagai sarana untuk bersyukur kepada Allah SWT setelah sebulan penuh berpuasa, dan merayakannya dengan menjalankan shalat sunah Idhul Fitri secara berjamaah.

Menurut Ustadz Maulana Muzzakir Ada 3 golongan sholat berjamaah yang akan diterima atau tidak, yang pertama, apabila Imamnya bagus, berarti dia paham hukum sholatnya, mengerti hukum fikih serta bacaan shalatnya bagus.
Demikian pula makmumnya juga bagus, semuanya mengerti hukum sholat dan ibadah. Apabila dinilai golongan ini mendapat 100 derajat, pahalanya 27 derajat.
Hal itu disampaikan Ustadz Maulana Muzzakir dalam tauziyahnya pada Halal bilhalal Persatuan Pensiunan RRI Bandarlampung, Sabtu (11/4/2026) bertempat di Masjid Al Anhar, Kompleks Perumahan Purna Karya RRI, Sukarame Bandarlampung.

Ustadz Maulana Muzzakir menambahkan Golongan yang kedua, apabila Imamnya bagus namun makmumnya tidak bagus.
"Tidak bagusnya seperti apa? Makmumnya sering pilih pilih Imamnya. Mereka tidak mau shalat berjamaah di masjid, karena tidak suka kepada Imamnya." terangnya.
Golongan yang ketiga, lanjut Ustadz Maulana Muzzakir, imamnya tidak bagus dan makumnya juga tidak bagus.
"Karena cara shalatnya tidak sesuai dari yang biasanya atau istilah dalam bahasa Jawa "Sholatnya rubuh rubuh gedang" atau tidak tegak dan cenderung condong kedepan" ucapnya sembari memperagakan cara shalat rubuh rubuh gedang tadi.
Pada bagian lain tauziyahnya, Ustadz Maulana Muzzakir juga menyimpulkan, jadi keutamaan sholat berjamaah itu, walaupun imamnya gak bagus dan bacaan shalatnya berantakan, seharusnya kita tetap mengucap syukur Alhamdulillah.
"Tetep bersyukur ya, karena shalat berjamaah, tetap saja kita menghadap Allah subhanahu wa ta'ala, ngadep Allah. Nilainya tetap 100 derajat dan pahalanyapun tetap 27 derajat" tandasnya lagi.
Ustadz Maulana Muzzakir juga menegaskan Shalat Berjemaah yang diukur Allah adalah hati dan amal perbuatan, bukan ketampanan atau kecantikan bahkan kekayaan kita dalam menjalani perintahNya.(@Ng).