Harapan Baru Warga Penghuni Huntara Aceh Tamiang
Aceh Tamiang - Spektroom : Warga korban bencana alam yang menempati Rumah Hunian Sementara ( Huntara) merasa lega dan mereka mengaku bersyukur sudah bisa tinggal di rumah hunian yang dibangun Kementerian PU.
Reno Warga Aceh Tamiang mengatakan kedatangan dirinya bersama keluarga sudah merasa nyaman dan bisa merayakan lebaran di Huntara tidak ditenda pengungsian. Dirinya juga merasakan kehadiran Presiden Prabowo dan Menteri PU untuk Solat Ied Idulfitri merupakan suatu anugerah dan membawa harapan baru.
"Kedatangan Presiden dan Menteri PU kami sangat senang dan bahagia. Artinya mereka mau bersama kami di sini dan melihat penderitaan kami," ucap Reno saat menceritakan kehadiran Presiden di Huntara, Senin ( 23/3 2026)

"Meskipun terkena bencana, kami tetap bersyukur karena dari Pemerintah melalui Kementerian PU telah membuat rumah hunian. Kami tetap bersyukur atas huniaan tersebut," tambah Reno.
Sementara itu, Hengky yang juga warga Aceh Tamiang mengapresiasi kedatangan Prabowo serta Menteri PU. Ia menilai pejabat pemerintah bukan sekedar datang tapi simbol kebersamaan. "Mereka datang bukan hanya melaksanakan Salat Id di Aceh Tamiang tapi ingin melihat situasi dan keadaan kami disini," ucap Hengky.
Seperti diketahui Presiden Prabowo saat Hari Raya Idul Fitri melaksanakan sholat Ied di Masjid Darussalam didampingi Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo bersama dengan warga penghuni Huntara.

Menteri Dody menegaskan bahwa penyediaan rumah hunian pascabencana merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo agar pemulihan tidak hanya berfokus pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada pemulihan kehidupan masyarakat.
“Hunian ini bukan sekadar bangunan, tetapi bagian dari pemulihan kehidupan masyarakat. Arahan Bapak Presiden jelas, kita harus memastikan masyarakat kembali merasa aman dan nyaman,” kata Menteri Dody.
Di Provinsi Aceh, Kementerian PU membangun sebanyak 1.056 unit yang tersebar di Kabupaten Aceh Tamiang sebanyak 240 unit, Kabupaten Bener Meriah sebanyak 228 unit, Kabupaten Aceh Utara sebanyak 360 unit. Selanjutnya di Kabupaten Pidie Jaya dibangun sebanyak 168 unit, dan di Kota Subulussalam sebanyak 60 unit.
Dalam pembangunan rumah hunian tersebut, Kementerian PU menggunakan metode konstruksi modular dengan sistem Modular Lite (MOLI). Teknologi ini memungkinkan pembangunan tanpa alat berat, fleksibel diterapkan di lokasi terdampak bencana dengan akses terbatas, serta mempercepat proses pemasangan tanpa mengurangi Sistem ini juga mempercepat proses pemasangan, meminimalkan limbah konstruksi, dan lebih efisien dalam pelaksanaan.
Rumah hunian dirancang dengan konstruksi yang durable dan tahan gempa, serta dapat dipasang dan dibongkar tanpa menghasilkan limbah konstruksi. Dengan pendekatan tersebut, Kementerian PU optimis seluruh rumah hunian yang dibangun dapat memberikan manfaat bagi masyarakat yang terdampak.