Hari Pendidikan Internasional, diperingati Ribuan Guru Kubu Raya
Spektroom – Pagi itu, Saptu (24/1/2026) halaman Kantor Bupati Kubu Raya dipenuhi senyum, tawa, dan semangat ribuan guru.
Sejak pukul 06.30 WIB, para tenaga pendidik yang tergabung dalam Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Kubu Raya berdatangan dari sembilan kecamatan.
Dengan pakaian olahraga sederhana dan langkah penuh antusias, mereka mengikuti jalan sehat bersama sebuah momen yang lebih dari sekadar olahraga.
Kegiatan ini sejatinya direncanakan bertepatan dengan Hari Guru Nasional. Namun, penundaan justru menghadirkan makna baru.
Jalan sehat itu akhirnya terlaksana pada Hari Pendidikan Internasional, menjadikannya simbol refleksi sekaligus perayaan peran guru dalam membangun masa depan.
Di tengah kerumunan para pendidik, Bupati Kubu Raya hadir langsung, menyatu tanpa sekat. Ia berjalan, menyapa, dan berbincang dengan para guru
seolah tak ada jarak antara pemimpin daerah dan para penjaga ruang kelas.
“Alhamdulillah, hari ini saya bisa bersama-sama dengan teman-teman tenaga pendidik. Momentum ini sangat tepat karena bertepatan dengan Hari Pendidikan Internasional,” ucapnya dengan nada penuh kehangatan.
Bagi Bupati, kegiatan ini bukan sekadar rutinitas seremonial.
Jalan sehat menjadi pengingat bahwa kesehatan dan pendidikan berjalan beriringan. Guru yang sehat, menurutnya, adalah fondasi lahirnya generasi yang kuat.
Di balik suasana meriah, terselip realitas yang tak ringan. Kabupaten Kubu Raya masih kekurangan tenaga pendidik.
Namun, keterbatasan itu tak menyurutkan komitmen pemerintah daerah. Lebih dari Rp15 miliar telah dialokasikan untuk menopang kebutuhan dan kesejahteraan guru.
“Dalam kondisi kekurangan guru, pemerintah daerah tetap berusaha hadir dan bertanggung jawab,” ujarnya tegas.
Yang paling menyentuh, Bupati menempatkan dirinya bukan hanya sebagai kepala daerah. Ia menyebut dirinya sebagai orang tua dan sahabat bagi para guru. Sebuah pernyataan yang disambut tepuk tangan panjang.
“Kami akan menjadi benteng yang kokoh bagi guru-guru yang telah menjalankan kewajibannya dengan baik. Guru harus merasa aman, dihargai, dan dilindungi,” katanya.
Kemeriahan acara kian terasa saat hadiah dibagikan. Sepeda motor, paket umrah, dan uang tunai menjadi kejutan manis. Namun, bagi banyak guru, hadiah terbesar pagi itu adalah rasa dihargai dan diperhatikan.
“Yang terpenting bukan hadiahnya,tutur melainkan silaturahmi, persaudaraan, dan ikatan emosional yang terus terjaga.” Ujar bupati.
Pagi itu, langkah para guru mungkin sederhana. Namun semangat yang mereka bawa dan perhatian yang mereka terima menjadi energi baru untuk terus mengabdi, mendidik, dan menyalakan harapan di ruang-ruang kelas Kubu Raya.