Hujan Lebat Picu Longsor di Silo, Atap Dapur Rumah Warga Tertimpa Material Tanah
Jember, Spektroom - Tanah longsor terjadi di Dusun Baban Batu Ampar RT 002/RW 016, Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo, kabupaten Jember, Jawa Timur pada Rabu, (25/02/2026).
Peristiwa tersebut dilaporkan pada pukul 14.00 WIB setelah sebelumnya longsor terjadi sekitar pukul 01.00 WIB dini hari. Material tanah dengan tinggi kurang lebih 15 meter dan lebar sekitar 10 meter meluncur dari lereng dan menimpa bagian atap dapur rumah milik Maskanah (49), yang dihuni oleh tiga jiwa. Akibat kejadian ini, atap dapur mengalami kerusakan dalam kategori ringan. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, meskipun potensi bahaya susulan masih perlu diwaspadai.
Kepala BPBD Jember Edy Budi Susilo, kepada spektroom.co.id Rabu (25/02/2026) mengatakan, kejadian ini dipicu oleh hujan lebat yang mengguyur wilayah Kecamatan Silo pada Selasa (24/02/2026) dengan durasi cukup lama. Intensitas hujan yang tinggi menyebabkan tanah pada lereng menjadi jenuh air dan kehilangan daya ikatnya. Pada Rabu dini hari sekitar pukul 01.00 WIB, lereng tidak lagi mampu menahan beban sehingga terjadi pergerakan tanah yang mengarah ke pemukiman warga. Material longsoran kemudian menimpa atap dapur rumah korban dan menyebabkan kerusakan ringan pada bagian bangunan tersebut. Menurut Edy, kondisi geografis yang berada di area lereng menjadi faktor utama terjadinya longsor.
Sebagai bentuk respons cepat, BPBD Kabupaten Jember bersama perangkat desa dan Destana Mulyorejo melakukan koordinasi serta assessment di lokasi kejadian. Tim juga melakukan dokumentasi untuk keperluan pelaporan dan analisis teknis lebih lanjut. Bantuan logistik berupa dua buah terpal didistribusikan kepada warga terdampak untuk melindungi bagian dapur dari hujan susulan. Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, tim kembali ke markas komando pada pukul 12.05 WIB. Selama proses penanganan berlangsung, tidak ditemukan kendala berarti.
Kondisi terkini menunjukkan bahwa material longsoran yang sempat menimpa dapur telah dibersihkan melalui kerja bakti oleh pemerintah desa bersama warga sekitar. Dua terpal telah terpasang di lokasi terdampak guna mencegah air hujan masuk dan mengurangi risiko kerusakan tambahan. Meskipun situasi saat ini relatif aman dan terkendali, kondisi tanah di sekitar lereng masih tergolong labil dan berpotensi terjadi longsor susulan apabila curah hujan kembali meningkat. Oleh karena itu, pengawasan dan kewaspadaan tetap diperlukan.
“Tim Mitigasi merekomendasikan agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi longsor susulan, terutama saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi,” ungkapnya.
Selain itu, lanjut Eddy, disarankan melakukan konservasi vegetasi menggunakan tanaman berakar kuat seperti vetiver untuk membantu mengikat tanah dan mengurangi erosi. Pengurangan kemiringan lereng melalui sistem terasering juga dianjurkan guna memperlambat aliran permukaan air. Edukasi kepada masyarakat menjadi langkah penting agar tidak membangun terlalu dekat dengan lereng serta tidak melakukan pemotongan lereng secara sembarangan.
“Dengan sinergi antara BPBD, perangkat desa, Destana, dan warga, diharapkan risiko bencana dapat diminimalkan dan keselamatan masyarakat tetap terjaga,” pungkasnya. (Budi S)