Indonesia Tidak Tinggal Diam : Perkuat Koordinasi ASEAN Hadapi Kabut Asap Lintas Batas
Jakarta - Spektroom ; Langit di sebagian wilayah Asia Tenggara kembali berubah warna. Kabut putih pekat yang membawa aroma sangit sisa pembakaran hutan kini menggelayuti ruang udara beberapa negara tetangga. Di Sarawak, Malaysia, indeks polusi udara bahkan sempat menembus angka kritis 519 sebuah alarm keras yang memaksa pemerintah setempat menetapkan status darurat asap.
Fenomena ini bukanlah hal baru. Saban tahun, ketika monsun membawa cuaca kering melintasi garis khatulistiwa, kombinasi antara vegetasi yang mengering dan aktivitas manusia memicu titik-titik api baru. Sumatra dan Kalimantan kembali menjadi sorotan, meski titik panas juga terdeteksi di wilayah Sarawak sendiri, sebagaimana dilaporkan oleh Layanan Meteorologi Singapura.
Namun, di tengah kepungan asap ini, ada sebuah pertanyaan mendasar yang terus berulang: mengapa wilayah regional ini masih kerap gagap dan terjebak dalam pola penanganan yang sama?
Selama ini, pendekatan yang diambil cenderung bersifat reaktif. Perhatian publik dan otoritas kerap terkuras habis pada aspek pemadam kebakaran, mobilisasi personel di lapangan, hingga pengerahan operasi darurat. Begitu hujan turun dan api padam, perhatian itu perlahan ikut menguap bersama hilangnya asap. Akar masalahnya sering kali belum benar-benar terurai hingga kemarau berikutnya datang mengetuk pintu.

Pemerintah Indonesia sendiri menegaskan tidak tinggal diam. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Vahd Nabyl, menyampaikan bahwa koordinasi intensif terus dilakukan. Indonesia secara proaktif memenuhi kewajiban pelaporan harian (SITREP) sesuai standar prosedur ASEAN sejak status siaga kawasan Level 3 ditetapkan pada akhir Agustus lalu.
"Indonesia senantiasa mengedepankan kerja sama dengan negara-negara tetangga, menjaga hubungan bilateral yang baik, khususnya dalam menghadapi isu lingkungan yang memiliki dampak lintas batas," ujar Nabyl dalam keterangan resminya, Sabtu (5/9/2026)
Melalui ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution (AATHP), mekanisme regional sebenarnya sudah berjalan. Pertemuan berkala dan koordinasi tindak lanjut terus dilakukan untuk mendorong pemanfaatan kerangka kerja sama ini secara optimal. Indonesia juga terus mendorong agar Pusat Koordinasi ASEAN untuk Pengendalian Polusi Asap Lintas Batas (ACC THPC) dapat beroperasi penuh
Tantangan ke depan diprediksi tidak akan lebih mudah. Badan Lingkungan Hidup Nasional Singapura (NEA) memproyeksikan wilayah ASEAN bagian selatan akan tetap didominasi cuaca kering dalam beberapa waktu ke depan. Angin yang bertiup dari tenggara ke selatan berpotensi terus membawa risiko kabut asap lintas batas jika titik api di daerah rawan tidak segera dikendalikan.
Memutus rantai karhutla tahunan membutuhkan pergeseran paradigma: dari sekadar memadamkan api saat krisis, menjadi pencegahan berlapis yang konsisten sepanjang tahun. Kerja sama lintas sektor antara pemerintah, swasta, dan komunitas lokal bukan lagi sekadar pelengkap dokumen di atas kertas, melainkan kunci utama agar langit ASEAN dapat kembali biru sepenuhnya.