Infrastruktur Pendukung Kendaraan Listrik Atau SPPB Aman
Spektroom - Menjawab kekhawatiran masyarakat, akan keandalan infrastruktur pendukung kendaraan listrik atau Electric Vehicle EV, Mahasiswa Program Doktor - S3 Tehnik Insdutri Universitas Sebelas Maret - UNS Surakarta, Yusuf Priyandari melakukan riset mendalam tentang kerentanan operasional Stasiun Penukaran dan Pengisian Baterai SPPB.
Dalam disertasinya, Yusuf menganalisis 880 ribu data transaksi dari sebuah perusahaan yang memiliki lebih dari 350 stasiun di Indonesia guna mengukur tingkat kerentanan layanan digital pada rantai pasok tertutup sistem penukaran baterai yang kini makin masif didorong pemerintah.
Lebih lanjut dalam Yudisium Promosi Doktor di Fakultas Tehnik Kampus Kentingan Jumat (06/02/2026 ) Yusuf mengungkapkan hasil analisis, datanya menunjukkan mayoritas stasiun berada dalam kondisi "tidak rentan".
Temuan ini menjadi angin segar bagi ekosistem kendaraan listrik nasional, yang membuktikan potensi gangguan teknis selama ini dikhawatirkan pengguna sebenarnya dapat ditangani dengan baik oleh penyedia layanan.
"Hasil riset menunjukkan mayoritas stasiun dalam kondisi tidak rentan. Artinya masyarakat tidak perlu ragu menggunakan stasiun penukaran baterai. Gangguan memang ada, tapi sudah terpetakan untuk mitigasi yang lebih baik, sehingga layanan ini terbukti aman," Jelas Yusuf Priyandari .
Guna memaksinalkan SPPB konsep "stasiun bersama" atau interoperabilitas antar-produsen motor listrik, layaknya sistem "ATM Bersama" penting untuk direalisasikan apalagi jika data dari berbagai operator dapat terintegrasi dalam satu pusat data, pemerintah akan lebih mudah memantau kinerja dan menjaga stabilitas layanan energi hijau ini.
Sementara itu, Dekan Fakultas Teknik UNS yang juga sebagai promotor, Prof. Wahyudi Sutopo, mengapresiasi terobosan akademik yang dapat memecahkan kerentanan dimana kompleksitas operasional stasiun, mulai dari pintu kabinet macet hingga stasiun offline, memang berisiko menurunkan kepercayaan konsumen jika tidak dimitigasi dengan sistem monitoring yang presisi.
"Disertasi ini memecahkan masalah kerentanan dengan model analitik berbasis large scale data. Dr. Yusuf mengembangkan model yang mampu mengklasifikasikan kerusakan dalam empat jenis, seperti stasiun offline atau baterai tidak terbaca, sehingga perbaikan bisa dilakukan lebih cepat dan transparan," kata Prof. Wahyudi.
Doktor Yusuf Priyandari dinyatakan lulus dengan IPK 3,96 dan lama studi 4 tahun 1 bulan serta dibebaskan dari ujian terbuka promosi doktor.
Hasil riset yang mampu menjawab kekhawatiran berkait kendaraan listrik ini, juga telah dipublikasikan di jurnal internasional bereputasi Q-One Nature Research. (Dan)