Ini Dia, Dua Gerbong Kereta di Alun-alun Selatan Keraton Surakarta
Spektroom - Ikon alun-alun kidul atau selatan Kota Solo Jawa Tengah, tidak hanya keberadaan Kerbau Bule, namun juga dua gerbong kereta api.
Ini semakin melengkapi daya tarik kawasan peninggalan Keraton Kasunanan Surakarta yang masuk sebagai kawasan cagar budaya dan menjadi area publik. Apalagi sebutan atau nama kereta itu cukup membuat orang penasaran, yakni Kereta Pesiar dan Kereta Jenazah.
Tak mengherankan jika warga masyarakat maupun wisatawan, sengaja melihat gerbong kereta itu dari dekat dan mengabadikan dalam foto maupun video sebagai dokumentasi maupun untuk konten di akun media sosial.
“Penasaran juga sih, koq horor banget ada kereta jenazah di alun-alun. Oh ternyata gerbong kereta milik raja jaman dulu,” ungkap Andi, mahasiswa dari Jakarta yang kebetulan sedang liburan di Solo, Minggu (1/2/2026).
Andi yang mengaku senang traveling menggunakan kereta api, memang sempat dibuat penasaran dengan adanya dua gerbong kereta di alun-alun selatan Kota Solo. Mengingat sebagai pecinta kereta api, selalu ingin tau hal-hal unik berkaitan dengan kereta.
“Wah keren, desain keretanya bagus dan masih kuat. Saya mendapat informasi bahwa kereta pesiar dan kereta jenazah ini usianya sudah sekitar satu abad lebih,” ucap Andi kepada Spektroom.

Sementara itu, Rina warga kota Solo juga menuturkan, usai aktifitas joging di kawasan alun-alun selatan itu, bersama teman-teman kadang istirahat duduk-duduk, di dekat bangunan yang ada keretanya.
“Bagi kami warga Solo, keberadaan kereta ini sudah tidak asing lagi. Tapi bagi pengunjung dari laur kota mungkin penasaran ya, apalagi i dibumbui dengan cerita horor dibalik kereta tersebut.” Ujarnya.
Pengamatan Spekrtroom, dua gerbong kereta itu terpisah, masing-masing menempati bangunan disisi utara alun-alun, yakni disebelah timur berupa Kereta Pesir dan bangunan sebelah barah terdapat Kereta Jenazah.
Mengutip web resmi Referensi Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) menyebutkan, Kereta pesiar memiliki nomor ILW-4, yang mulai beroperasi pada tahun 1911. Kereta ini awalnya digunakan oleh Pakubuwono X sebelum kemudian digunakan oleh PNKA untuk keperluan inspeksi. Gerbong Kereta ini awalnya memiliki dinding dari kayu, yang kemudian dimodifikasi menjadi dinding baja.
Sedangkan kereta jenazah milik Pakubuwono X mulai beroperasi pada 1914, namun digunakan pada tahun 1939 ketika Pakubuwono X mangkat. Kereta tersebut membawa jenazah Pakubuwono X dari Surakarta ke Yogyakarta, untuk dimakamkan di Imogiri. (Ciptati Handayani)