Inovasi Diperlukan Saat Over Produksi Akibatkan Harga Anjlok

Spektroom - Saat produksi berlebih dan jalur distribusi belum optimal, harga tomat di pasaran kerap anjlok. Namun, menurut Dr. Nurhayati, S.TP, M.Si., dosen dari program studi Teknologi Hasil Pertanian (THP) Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Jember (UNEJ), kondisi ini justru menjadi momentum emas untuk berinovasi.
“Ketika harga tomat sedang murah karena overproduksi, kita tidak bisa hanya pasrah. Inovasi teknologi adalah kunci agar tomat tidak cepat rusak, punya nilai tambah, dan bisa dipasarkan lebih luas,” ujar Nurhayati.
Dosen UNEJ ini menjelaskan, ada banyak cara untuk mengolah tomat menjadi produk yang lebih bernilai. Inovasi ini bisa dimulai dari skala rumahan hingga industri besar. Beberapa produk olahan bernilai tinggi yang bisa diolah dari tomat antara lain:
– Pasta, saus, dan pure tomat: Produk ini jauh lebih awet dan bisa menjadi bahan baku untuk industri makanan.
– Jus tomat: Dengan menambahkan vitamin atau mineral, jus tomat bisa menjadi minuman fungsional yang menyehatkan.
– Selai tomat: Ini bisa menjadi alternatif selai buah yang unik dan menarik.
– Tomat kering (sun-dried tomato): Produk ini sangat populer di kuliner internasional dan memiliki harga jual yang tinggi.
Selain itu, bisa menuju pengolahan berbasis teknologi modern:
– Bubuk tomat (spray drying): Bubuk ini bisa dimanfaatkan sebagai bumbu, bahan sup instan, atau mie instan.
– Freeze drying: Teknologi ini menjaga warna merah dan kandungan antioksidan (likopen) dalam tomat.
– Fermentasi: Tomat bisa difermentasi menjadi anggur tomat (tomato wine), cuka tomat, atau produk probiotik.

Selain itu, inovasi juga bisa menyentuh ranah pangan fungsional, seperti ekstraksi likopen yang bermanfaat untuk suplemen kesehatan dan kosmetik. Bahkan, kulit dan biji tomat yang sering dianggap limbah ternyata kaya akan antioksidan dan bisa diolah menjadi bahan dasar kosmetik atau pewarna alami.
Nurhayati sendiri telah membuktikan pentingnya inovasi melalui risetnya yang berhasil mendapatkan paten. Ia adalah salah satu peneliti yang berhasil mematenkan teknologi pengolahan berbagai komoditas, seperti lombok terong khas Tengger menjadi saus (IDS000010441), kedelai menjadi keju tahu (IDP000074819), dan pengolahan limbah pisang menjadi pektin (IDP000071851).
“Inovasi dengan formula dan cita rasa spesifik berpotensi untuk dipatenkan. Ini memberikan nilai ekonomi dan perlindungan hukum bagi produk kita,” jelasnya.
Menurut Nurhayati, diversifikasi produk memiliki banyak keuntungan. Selain mengurangi kerugian petani saat harga anjlok, inovasi ini juga membuka pasar baru dan mendorong munculnya UMKM dan industri pangan yang lebih inovatif.
“Peran universitas sangat vital sebagai jembatan alih teknologi pengolahan kepada para pelaku UMKM dan industri. Kami bisa memfasilitasi jejaring bisnis agar produk olahan tomat bisa tersalurkan dengan baik,” jelasnya.
Nurhayati menyampaikan harapannya kepada seluruh pemangku kepentingan, baik petani maupun pelaku industri. Kepada petani, ia berpesan agar mereka memiliki pola tanam yang jelas, disesuaikan dengan iklim dan musim. Petani juga diharapkan dapat menjalin koneksi yang baik dengan sesama petani untuk mencegah penumpukan hasil panen.
Sementara itu, untuk pelaku industri, Dr. Nurhayati berharap mereka dapat membeli produk petani. “Petani adalah soko guru ketahanan pangan dan perekonomian kita, baik di tingkat lokal maupun nasional. Jika petani sejahtera, daya beli masyarakat akan meningkat dan dampaknya juga akan kembali ke industri,” tutupnya. (dil/Yul)