Integritas Kemasan Beri Kontribusi Kesehatan Saat Ini dan Masa Depan
Spektroom - Kotak atau botol kemasan minuman susu menjadi bagian penting untuk menjamin isi didalamnya tidak terkontaminasi oleh mikroorganisme yang berkembang biak secara mikrotis. Disamping kemasan minuman harus terjamin steril, kreasi desain tampilan juga harus menarik perhatian konsumen.
Haris Fajar Rasmanto Direktur Ilumanate Research Asia saat dihubungi oleh tim spektroom, Senin (27/1/2026) mengatakan persaingan bisnis memaksa produsen harus senantiasa menyesuaikan produknya atas ekspektasi konsumen yang setiap saat bisa berubah. Haris menegaskan diferensiasi merupakan hal penting yang harus ditawarkan kepada konsumen dan kenyamanan penyajiannya juga menjadi daya tarik tersendiri.
“Persaingan sangat ketat dalam memenangkan bisnis, sehingga pengusaha harus memiliki kepekaan yang tinggi untuk senantisa bisa memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. Selain itu produksinya juga harus memiliki perbedaan keunggulan dari produk sejenis seperti produk kemasan makanan, minuman wajib memenuhi standar steril dan juga memiliki kesan yang mendalam dibenak konsumen saat disajikan.”

Kepala Biro Hukum dan Humas Badan Gizi Nasional memastikan seluruh penyediaan dan distribusi makanan dan minuman untuk MBG berjalan sesuai standar yang ketat untuk melindungi kelompok penerima manfaat (dikutip dari rilis BGN/11/2025).
Menjawab kekhawatiran konsumen atas kesinambungan kualitas isi makanan atau minuman didalam kemasan karena harus melalui proses penyimpanan, distribusi dan transportasi. Bahan karton yang digunakan untuk produksi kemasan kotak minuman harus memenuhi standar tahan lengkung, tahan tarik, gramatur agar karton kokoh, lapisan pengikat (coating) karton dengan alumunium foil sebagai penyekat kontaminasi oksigen, sinar matahari dan aroma dari luar maupun lapisan paling dalam bersifat tidak bereaksi (inert) walau bersentuhan langsung dengan susu (dikutip dari laman Badan Standarisasi Nasional RSNI3 8218-2024).
Sebagai produsen kemasan aseptik berteknologi tinggi dalam melakukan kreasi dan inovasi sesuai keinginan pengguna, LamiPak tetap mengutamakan kualitas yang unggul agar kemasan yang diproduksi terhindar dari kerusakan pada saat proses distribusi ke berbagai daerah di seluruh Indonesia.
Kepala Humas LamiPak Ahmad Rizalmi menyatakan, kualitas isi dalam kemasan tetap menjadi fokus konsentrasi Lamipak karena esensi setiap kemasan yang diproduksi LamiPak terdapat garis hidup kesehatan yang wajib dijaga kesinambungannya. Kotak kemasan aseptik berbahan karton yang diproduksi Lamipak tidak menggunakan alumunium agar tetap ramah lingkungan demi menjaga kehidupan dimasa mendatang karena dampak limbah sampah kemasan dapat dieliminir. Kotak kemasan produksi LamiPak lebih mudah didaur ulang dan sudh melayani produsen minuman di 86 negara.
“Walau tidak menggunakan alumunium foil, teknologi Lamipure yang dimiliki LamiPak mampu melakukan pengawalan terhadap presisi kesegaran minuman dalam kemasan yang tanpa pengawet saklipun. Lalu diferensiasi lainnya, LamiPak melakukan inovasi teknologi LamiPristine agar konsumen bisa bersama-sama menjaga kesinambungan kesehatan baik saat ini maupun dimasa depan karena teknologi LamiPristine memberi kontribusi lingkungan terhindar dari limbah karbon akibat sampah karton yang tidak menggunakan teknologi LamiPristine.”
Ahmad Rizalmi menegaskan produk LamiPak dirancang untuk menjaga kesegaran dan keamanan dan minuman tanpa pengawet atau system pendingin sehingga cocok untuk susu UHT dan jenis minuman lain yang siap langsung diminum. LamiPak juga mengajak konsumen untuk sama-sama mengawasi kualitas kemasan karena disetiap kemasan disertakan kode digital agar konsumen mudah melacak otentifikasi kemasan yang diproduksi oleh LamiPak menggunakan bahan dasar yang bersumber dari mana.
Pentingnya menjaga kesegaran minuman dalam kemasan menjadi perhatian setiap konsumen termasuk doketer Dewi Soewandi asesor akreditasi rumah sakit di wilayah Jakarta. Saat dihubungi oleh tim Spektroom (27/1/2026), Dokter Dewi menegaskan susu akan berubah rasa setelah 2 jam terbuka dari kemasan kecuali disimpan dalam lemari pendingin bisa bertahan lebih lama. Selain itu jika kemasan sudah menggelembung walau kemasan sudah ditutup rapat, itu menunjukkan indikator bahwa susu sudah terkontaminasi bakteri.
“Kami selalu mengingatkan kepada petugas Rumah sakit untuk mengedukasi dan mengingatkan jika keluarga akan memberikan minuman tambahan susu UHT kepada pasien agar memperhatikan lama jeda waktu minum susu tidak lebih dari 2 jam setelah dibuka dari kemasan dan kalaupun akan diminum kembali setelah terbuka sebaiknya diletakkan ke dalam wadah yang bersih, tidak diminum langsung melalui wadah tersebut lalu ditutup wadahnya dan masukkan ke lemari pendingin. Jika itu dilakukan maka dua sampai tiga hari susu masih bisa diminum.”
Fakta yang ditemukan oleh tim spektroom menunjukkan bahwa kreasi kemasan makanan dan minuman dari waktu ke waktu dengan standar multi lapis terus menerus dilakukan. Integritas kemasan dengan inovasi teknologi modern demi kesinambungan kesehatan tidak memberi toleransi pada kebocoran udara, paparan sinar matahari ultra violet (UV), aroma di luar kemasan serta kerusakan lingkungan akibat limbahnya.
Spektroom.co.id – publis 27/1/2027.