Trending

Jateng Atur Pola Tanam dan Pangkas Rantai Pasok untuk Kendalikan Harga Pangan

Jateng Atur Pola Tanam dan Pangkas Rantai Pasok untuk Kendalikan Harga Pangan
Pengendalian invlasi harus sinergi lintas sektor, mulai dari pemerintah, Bank Indonesia (BI), Perum Bulog, petani hingga pedagang. (Foto : Karindra).

Ungaran-Spektroom : Ancaman El Nino dan ketidakseimbangan pasokan menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam menjaga harga pangan tetap terjangkau.

Pengaturan pola tanam, penguatan produksi, serta pemangkasan rantai distribusi ditempuh untuk mengantisipasi lonjakan harga beras, cabai, jagung, daging ayam ras, dan telur.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan, pengendalian inflasi membutuhkan kerja sama lintas sektor, mulai dari pemerintah, Bank Indonesia (BI), Perum Bulog, petani hingga pedagang. Intervensi perlu dilakukan dari hulu hingga hilir agar ketersediaan pangan tetap terjaga dan harga tidak membebani masyarakat.

“Intervensi tidak hanya dinas terkait, tetapi kita gandeng Bulog, BI, para petani, dan pedagang. Kita pertemukan semuanya untuk berkolaborasi menjaga ketersediaan dan keterjangkauan harga,” ujarnya dalam kegiatan Sinergi Stabilitas Harga dan Hilirisasi Pangan di Ungaran, Kabupaten Semarang, Senin (12/10/2026).

Salah satu langkah yang didorong adalah penyesuaian pola tanam cabai agar masa panen sesuai kebutuhan pasar. Daerah sentra produksi seperti Magelang dan Temanggung menjadi perhatian, terutama untuk mengantisipasi kekurangan pasokan yang berpotensi memicu kenaikan harga.

Di sektor beras, Jawa Tengah memiliki produksi sekitar 8,4 juta ton dan menyumbang sekitar 17,5 persen terhadap produksi nasional. Potensi tersebut perlu dijaga melalui penguatan produksi dan distribusi.

Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Tengah M. Noor mengatakan, tekanan harga sejumlah komoditas dipengaruhi ancaman El Nino, serangan hama tikus, serta pola pasokan yang belum sepenuhnya sesuai permintaan.

Bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), BI telah mendukung penyediaan sarana pertanian berupa 10 sumur, 17 pompa air, delapan unit vivanisasi, 98 rumah burung hantu, dan enam greenhouse.

BI juga memfasilitasi tebus murah beras dan cabai bagi masyarakat serta pedagang makanan kaki lima. Harga beras yang semula sekitar Rp15.000 turun menjadi Rp11.000 per kilogram, sedangkan cabai mencapai Rp22.000 per kilogram. Edukasi pemanfaatan cabai kering turut dilakukan sebagai alternatif saat harga cabai segar meningkat.

Sementara itu, Pemimpin Wilayah Bulog Jawa Tengah Sri Muniati menyampaikan, penyerapan beras di Jawa Tengah telah mencapai sekitar 106 persen dari target. Penyerapan dilakukan di sejumlah sentra panen, antara lain Sukoharjo, Grobogan, Demak, Sragen, Banyumas, dan Magelang.

Bulog juga memperluas distribusi beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) melalui pasar rakyat, gerakan pangan murah, serta Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.

Melalui pengaturan pola tanam, dukungan produksi, dan distribusi yang lebih efisien, pemerintah berharap gejolak harga dapat diantisipasi lebih awal sekaligus menjaga daya beli masyarakat.

Berita terkait