Jejak Langkah Keluarga Prabowo Subianto di Sumatera Barat, Bianti Djojohadikusumo: Kami Tidak Pernah Melupakan Minangkabau
Kenangan Keluarga Prof. Soemitro Djojohadikusumo tentang Pengungsian, Persahabatan, dan Kemanusiaan.
#Repost dari akun FB Henmaidi Alfian
Padang-Spektroom : Tanggal 3 Agustus 1957, sebuah keluarga tiba di Sumatera Barat dalam senyap. Mereka bukan wisatawan yang datang menikmati keindahan Ranah Minang. Mereka bukan perantau yang sedang mencari penghidupan baru. Mereka datang membawa kecemasan, ketidakpastian, dan harapan untuk menemukan tempat yang aman di tengah situasi politik yang sedang bergejolak.
Di antara rombongan tersebut terdapat Bianti Djojohadikusumo dan Maryani Djojohadikusumo yang masih berusia belia. Bersama mereka ikut pula adik mereka yang ketika itu masih berusia sekitar lima tahun, Prabowo Subianto. Mereka datang bersama sang ibu, sementara ayah mereka, Prof. Soemitro Djojohadikusumo, tidak berada bersama mereka.
Mereka belum sepenuhnya memahami apa yang sedang terjadi. Mereka hanya mengetahui bahwa ayah mereka telah pergi lebih dahulu dan bahwa keluarga harus meninggalkan kehidupan yang selama ini mereka kenal. Pertanyaan yang muncul dalam benak mereka sangat sederhana: mengapa keluarga harus berpindah? Ke mana ayah pergi? Dan kapan mereka dapat berkumpul kembali?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut baru mereka pahami bertahun-tahun kemudian.
Tahun 1957 merupakan salah satu periode yang penuh dinamika dalam sejarah Indonesia. Situasi politik nasional berkembang dengan cepat dan sering kali tidak menentu. Dalam suasana seperti itulah Prof. Soemitro Djojohadikusumo memperoleh informasi bahwa dirinya akan ditangkap esok pagi. Menurut penuturan keluarga, informasi tersebut berasal dari kalangan TNI Angkatan Darat dan merupakan peringatan ketiga yang diterimanya.
Menyadari besarnya risiko yang dihadapi, Prof. Soemitro meninggalkan Jakarta lebih dahulu melalui Merak. Kepergiannya dilakukan dalam situasi yang penuh kehati-hatian. Bahkan keluarganya sendiri tidak mengetahui secara pasti ke mana beliau pergi. Beberapa waktu kemudian, sang istri memperoleh pesan agar segera membawa anak-anak menuju Ranah Minang.
Perjalanan itulah yang membawa keluarga Djojohadikusumo ke Sumatera pada tanggal 3 Agustus 1957.
Bagi anak-anak yang ikut dalam perjalanan tersebut, Sumatera Barat pada awalnya hanyalah tempat yang asing. Namun seiring waktu, daerah ini justru menjadi bagian yang sangat penting dalam sejarah keluarga mereka.
Selama berada di Sumatera Barat, mereka tidak menetap di satu tempat. Keluarga tersebut berpindah-pindah antara Padang, Bukittinggi, dan Batusangkar. Situasi saat itu menuntut kehati-hatian. Masa depan belum jelas. Keberadaan Prof. Soemitro belum diketahui secara pasti. Setiap hari dijalani dalam suasana yang penuh ketidakpastian.
Namun justru dalam masa-masa sulit itulah mereka menemukan sesuatu yang tidak pernah mereka lupakan sepanjang hidup.
Mereka menemukan ketulusan dan keberanian.
Beberapa tokoh masyarakat Minangkabau memberikan perlindungan kepada keluarga tersebut. Di antara nama yang paling dikenang oleh keluarga adalah Ramli Hadi dan Martunus Hadi. Keduanya memberikan bantuan dan perlindungan pada saat keluarga Prof. Soemitro menghadapi masa yang sangat berat.
Apa yang mereka lakukan bukan tanpa risiko. Dalam situasi politik yang sensitif, membantu sebuah keluarga yang sedang menghadapi tekanan politik bukanlah keputusan yang mudah. Namun mereka tetap memilih untuk membantu.
Risiko itu kemudian benar-benar datang.
Ramli Hadi ditangkap. Sementara Martunus Hadi terpaksa meninggalkan tanah air dan melarikan diri ke Malaysia. Pengorbanan mereka menjadi bukti bahwa keberanian sering kali hadir dalam tindakan-tindakan sederhana yang dilakukan demi kemanusiaan.
Bagi keluarga Djojohadikusumo, nama-nama tersebut tidak pernah hilang dari ingatan.
Pada bulan November 1957, setelah berbulan-bulan terpisah, Prof. Soemitro akhirnya kembali bertemu dengan keluarganya. Pertemuan tersebut membawa kelegaan bagi keluarga yang selama ini hidup dalam ketidakpastian. Namun perjalanan mereka belum berakhir.
Tidak lama kemudian, keluarga tersebut meninggalkan Indonesia menggunakan kapal kargo menuju Singapura. Dari sana mereka melanjutkan perjalanan ke Malaysia. Kehidupan sebagai pengungsi pun dimulai.
Di Malaysia, keluarga Prof. Soemitro memperoleh dukungan dari sejumlah sahabat lama beliau. Sebelum berbagai pergolakan politik terjadi, Prof. Soemitro telah menjalin hubungan baik dengan banyak tokoh di kawasan Asia Tenggara. Di antara sahabat dekatnya adalah Tunku Abdul Rahman dan Abdul Razak Hussein. Persahabatan tersebut membantu keluarga Soemitro menjalani tahun-tahun awal kehidupan mereka di pengasingan.
Mereka mulai membangun kembali kehidupan yang sempat terhenti. Namun sejarah kembali menghadirkan tantangan baru.
Ketika hubungan Indonesia dan Malaysia memburuk pada masa Konfrontasi yang dikenal dengan slogan "Ganyang Malaysia", situasi menjadi semakin sulit. Keluarga Soemitro kembali harus mencari tempat yang lebih aman.
Mereka meninggalkan Malaysia dan menuju Swiss. Setelah beberapa waktu tinggal di sana, mereka kemudian menetap di London, Inggris. Di kota itulah sebagian besar masa pengasingan mereka berlangsung.
Tahun demi tahun berlalu.
Anak-anak yang dahulu datang ke Sumatera Barat dalam suasana penuh ketidakpastian tumbuh menjadi pribadi dewasa. Mereka menjalani pendidikan, beradaptasi dengan lingkungan internasional, dan belajar membangun kehidupan jauh dari tanah kelahiran mereka.
Prof. Soemitro sendiri berasal dari keluarga Jawa Banyumas dan dibesarkan dalam tradisi pendidikan Belanda yang kuat. Sementara istrinya, Dora Marie Sigar, berasal dari Manado. Latar belakang keluarga yang beragam tersebut, ditambah pengalaman hidup di berbagai negara, membentuk karakter dan pandangan hidup keluarga Djojohadikusumo selama masa pengasingan.
Perubahan besar akhirnya terjadi setelah pergantian pemerintahan di Indonesia. Presiden Soeharto mengundang Prof. Soemitro kembali ke tanah air untuk membantu pembangunan nasional. Pada tahun 1968 beliau kembali dipercaya menjadi menteri dalam pemerintahan Indonesia.
Meskipun demikian, keluarganya belum langsung pulang. Mereka masih tinggal di London selama beberapa waktu. Baru sekitar dua tahun kemudian keluarga dipanggil kembali ke Indonesia. Dengan demikian, masa pengasingan keluarga Djojohadikusumo berlangsung sekitar sebelas tahun.
Bagi banyak orang, kisah tersebut mungkin merupakan bagian dari sejarah politik Indonesia. Namun bagi Bianti dan Maryani Djojohadikusumo, kisah itu memiliki makna yang jauh lebih pribadi.
Kisah itu adalah tentang orang-orang yang hadir ketika keluarga mereka berada dalam kesulitan.
Tentang keberanian yang tidak mencari penghargaan.
Tentang persahabatan yang tidak memandang asal-usul.
Dan tentang kemanusiaan yang tetap hidup bahkan pada masa-masa yang paling sulit.

Hampir tujuh puluh tahun kemudian, pada tanggal 3–5 Juni 2026, Bianti Djojohadikusumo dan Maryani Djojohadikusumo kembali mengunjungi Sumatera Barat. Kunjungan tersebut merupakan sebuah napak tilas untuk mengenang tempat-tempat yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka.
Mereka datang untuk melihat kembali daerah yang pernah memberi perlindungan kepada keluarga mereka.
Mereka datang untuk mengenang orang-orang yang pernah membuka pintu rumah dan pintu hati ketika keadaan sedang tidak berpihak kepada mereka.
Mereka datang untuk menyampaikan rasa hormat kepada masyarakat Minangkabau yang telah menunjukkan keberanian dan solidaritas pada saat keluarga mereka sangat membutuhkannya.
Dari seluruh perjalanan panjang yang membawa keluarga Djojohadikusumo dari Sumatera Barat ke Singapura, Malaysia, Swiss, London, dan akhirnya kembali ke Indonesia, ada satu pelajaran yang tetap hidup hingga hari ini.
Bahwa dalam setiap masa sulit selalu ada orang-orang baik yang memilih untuk menolong, meskipun harus menghadapi risiko bagi dirinya sendiri.
Dan bagi keluarga Djojohadikusumo, sebagian dari orang-orang baik itu berasal dari Ranah Minang.
Karena itulah, hingga hari ini, mereka tetap menyimpan kisah tak terlupakan. Berlinang air mata keluarga ini bercerita. Seakan mengungkapkan rasa terdalam: *Kami tidak pernah melupakan Minangkabau.*
(Diceritakan ulang setelah mendengar penuturan Ibu Bianti Djojohadikusumo dan Ibu Maryani Djojohadikusumo di Unand, 5 Juni 2026 - Henmaidi)