Juadah Ramadan Pontianak: Ketika Dokok-Dokok dan Hati Pari Menjadi Rasa Rindu Senja

Juadah Ramadan Pontianak: Ketika Dokok-Dokok dan Hati Pari Menjadi Rasa Rindu Senja
Inilah penampakan dokok dokok dilapak warung Juadah Bang Jung Pontianak. (Foto: Apolo/Spektroom)

Pontianak,Spektroom - Di banyak daerah, orang menyebutnya takjil. Di Pontianak, sebagian warga lebih akrab dengan istilah juadah.

Nama boleh berbeda, tetapi maknanya sama: penganan manis dan gurih yang menjadi penanda waktu berbuka puasa.

Di kota tepian Sungai Kapuas ini, tradisi juadah bukan sekadar urusan rasa, melainkan juga cerita tentang warisan, pertemuan budaya, dan denyut ekonomi kecil yang hidup setiap Ramadan.

Salah satu simpulnya ada di Warung Kue Bang Jung, lapak kue yang hari-hari biasa menjadi tempat penitipan kue kampung dari berbagai penjuru kota. Namun ketika Ramadan tiba, wajahnya berubah.

Meja-meja panjang dipenuhi ribuan juadah, dari yang populer hingga yang nyaris terlupakan.

Ajung, pemilik warung, menyebut setiap hari ada sekitar 2.000 hingga 3.000 jenis kue tradisional Nusantara yang datang silih berganti. Harganya merakyat, mulai dari Rp1.000 hingga Rp2.500 per buah.

Deretan kue Juadah di warong Bang Jung. (Foto: Apolo/Spektroom)

Ada pula kemasan khusus atau kantong plastik berisi aneka pilihan dengan harga serba Rp10.000 praktis untuk keluarga yang ingin berbuka bersama tanpa repot memilih satu per satu.

Di antara deretan warna dan aroma santan yang menggoda, ada dua nama yang mencuri perhatian: dokok-dokok kuah dan hati pari.

Keduanya tidak selalu hadir di hari biasa. Justru kelangkaannya itulah yang membuatnya terasa istimewa saat Ramadan.

Dokok-dokok terbuat dari tepung ketan, putih atau hitam, yang diuleni hingga kalis dan mudah dibentuk. Di dalamnya disisipkan gula merah atau inti kelapa yang manis.

Adonan kemudian direbus hingga mengapung tanda ia matang. Bentuknya lonjong, sederhana, tanpa hiasan rumit.

Namun sentuhan akhirnya ada pada kuah: campuran santan, sedikit garam, dan aroma daun pandan yang lembut.

Dalam satu kantong biasanya berisi lima butir dokok-dokok, setengah bagian lainnya dipenuhi kuah putih yang gurih.

Saat disantap, tekstur pulut yang kenyal berpadu dengan lelehan manis di dalamnya, lalu disempurnakan oleh kuah santan yang asin lembut.

Perpaduan rasa itu seperti dialog kecil antara manis dan gurih kontras yang justru saling menguatkan.

Sementara hati pari, dengan bentuknya yang khas menyerupai sayap atau hati ikan pari, menjadi simbol kreativitas dapur tradisional.

Kue Tradisional Hati Pari. (Foto:Apolo/Spektroom)

Ia mungkin tidak memiliki kisah heroik atau legenda panjang, tetapi kehadirannya yang musiman menjadikannya bagian dari memori kolektif warga Pontianak.

Bagi Ajung, ia mungkin bukan pembuat dokok-dokok. Namun dari balik meja kayu warungnya, ia menyaksikan bagaimana juadah menjadi jembatan antar generasi.

Orang tua mengenang masa kecil, anak-anak belajar menyebut nama kue yang asing di telinga mereka.

Di tengah modernitas dan gempuran makanan cepat saji, juadah Ramadan di Pontianak membuktikan satu hal: tradisi bisa bertahan bukan karena dipaksa, melainkan karena dirindukan.

Dan setiap senja, ketika azan magrib berkumandang, rasa rindu itu menemukan bentuknyadalam sepotong dokok-dokok yang hangat dan menyenangkan semangkuk kuah santan yang menenangkan.

Berita terkait

Pemprov Sumbar dan Pemkab Lima Puluh Kota Sinkronkan Arah Pembangunan 2026

Pemprov Sumbar dan Pemkab Lima Puluh Kota Sinkronkan Arah Pembangunan 2026

Padang - Spektroom : Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) menggelar rapat koordinasi sinkronisasi pembangunan bersama Pemerintah Kabupaten Lima Puluhkota. Rapat tersebut berlangsung di rumah dinas Bupati Lima Puluhkota, Selasa (24/2/2026). Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah mengatakan rapat tersebut menjadi ruang diskusi untuk menyamakan langkah dan meningkatkan sinergitas dalam melakukan

Rafles