Kasus HIV/AIDS Papua Tembus 25.678, Naik 2.143 Kasus dalam Enam Bulan

Kasus HIV/AIDS Papua Tembus 25.678, Naik 2.143 Kasus dalam Enam Bulan
Gubernur Papua, Matius D. Fakhiri. (Foto: Dok. Pemprov Papua)

Spektroom - Papua kembali menghadapi lonjakan kasus HIV/AIDS. Data terbaru yang dirilis Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Papua mencatat, hingga Desember 2025 jumlah kumulatif kasus telah mencapai 25.678.

Angka ini meningkat 2.143 kasus dibandingkan Juni 2025 yang berada di posisi 23.535 kasus.

Kenaikan tersebut memperlihatkan bahwa penyebaran Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Bumi Cenderawasih belum menunjukkan tren penurunan signifikan, meski berbagai program pencegahan terus digencarkan pemerintah.

Rincian data KPA Papua menunjukkan, Kota Jayapura menjadi wilayah dengan kasus tertinggi yakni 10.946 kasus, disusul Kabupaten Jayapura sebanyak 6.487 kasus.

Kabupaten Biak Numfor mencatat 3.630 kasus, Kepulauan Yapen 3.039 kasus, Keerom 608 kasus, Waropen 344 kasus, Supiori 262 kasus, Sarmi 243 kasus, serta Mamberamo Raya 119 kasus.

Lonjakan ini menambah daftar panjang perjalanan HIV/AIDS di Indonesia sejak pertama kali terdeteksi pada April 1987.

Saat itu, seorang warga negara Belanda meninggal dunia di RS Sanglah Bali akibat Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS).

Sejak saat itu, infeksi HIV menyebar ke berbagai wilayah Nusantara, termasuk Papua yang kini menjadi salah satu provinsi dengan beban kasus tertinggi.

Menyikapi peningkatan tersebut, Pemerintah Provinsi Papua menetapkan penanggulangan HIV/AIDS sebagai salah satu program prioritas dalam rencana pembangunan 2025–2030. Pendekatan yang diusung tidak hanya berbasis medis, tetapi juga edukasi dan sosial budaya.

Gubernur Papua, Matius D. Fakhiri, menegaskan bahwa upaya medis harus berjalan beriringan dengan perubahan perilaku masyarakat serta pendekatan sosial budaya yang disesuaikan dengan karakteristik masyarakat Papua.

“Pendekatan medis saja tidak cukup. Perlu dedikasi, perubahan perilaku, serta pendekatan sosial budaya yang tepat agar upaya pencegahan lebih efektif,” ujarnya, Sabtu (14/2/2026).

Ia juga menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor, mulai dari pemerintah provinsi hingga kabupaten/kota.

Pelibatan guru, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, relawan hingga lembaga swadaya masyarakat dinilai krusial untuk menjangkau masyarakat hingga ke wilayah terpencil.

Menurut Fakhiri, virus HIV memang belum dapat disembuhkan, namun penyebarannya bisa dicegah dan dikendalikan melalui deteksi dini, pengobatan antiretroviral (ARV) yang konsisten, serta edukasi berkelanjutan.

Pemerintah berharap, dengan pendekatan kolaboratif dan berbasis budaya lokal, laju peningkatan kasus dapat ditekan dalam lima tahun ke depan.

Namun tantangan besar masih membayangi: stigma, rendahnya kesadaran tes dini, serta akses layanan kesehatan di wilayah terpencil Papua. (Toni Teniwut)

Berita terkait

62 Tahun Menyalakan Cahaya di Timur Indonesia, STFT Fajar Timur Resmi Bertransformasi Menjadi UNIKA

62 Tahun Menyalakan Cahaya di Timur Indonesia, STFT Fajar Timur Resmi Bertransformasi Menjadi UNIKA

Spektroom - Di sebuah sudut Abepura, Jayapura, sejarah panjang pendidikan Katolik di Tanah Papua memasuki babak baru. Setelah 62 tahun setia menyalakan lilin kecil pengetahuan, Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Fajar Timur resmi bertransformasi menjadi Universitas Katolik (UNIKA) Fajar Timur Papua. Perubahan status itu ditandai dengan terbitnya Surat Keputusan Menteri

Apolonius welly, Rafles