Kebaya Pagi di- Hari Ibu: Senam, Tradisi, dan Kepedulian di GOR Satria Purwokerto
Spektroom — Senin pagi, 22 Desember 2025, terasa berbeda dari biasanya. Langit cerah membentang di atas GOR Satria Purwokerto, sementara udara pagi terasa segar dan bersahabat. Angin berembus pelan dari barat, sepoi-sepoi basah, seakan ikut menyapa siapa saja yang datang pagi itu.
Namun, bukan hanya cuaca yang membuat pagi itu istimewa. Ada pemandangan tak lazim di kawasan GOR Satria. Jika biasanya area ini dipenuhi warga berbusana olahraga—kaus, training, dan sepatu lari—kali ini mata pengunjung dimanjakan oleh warna-warni kebaya dan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia.
GOR Satria pagi itu seolah berubah menjadi panggung budaya.
Mayoritas pengunjung adalah ibu-ibu. Mereka datang dengan kebaya anggun, jarit bermotif, dan senyum yang tak kalah cerah dari mentari pagi.

Pemandangan ini sontak mengundang rasa penasaran. Beberapa bapak-bapak, termasuk penulis, saling bertanya dalam hati: ada acara apa gerangan pagi ini?
Sekitar pukul 06.00 WIB, saat matahari mulai menampakkan wajahnya, rasa penasaran itu terjawab. Di bagian depan GOR, ibu-ibu dari komunitas Senam GOR Satria Purwokerto sudah berbaris rapi. Tangan mereka terentang mengikuti irama musik senam sehat yang ceria.

Diyah Mamung, anggota komunitas senam GOR Satria Purwokerto mengatakan, merayakan hari ibu tidak harus digedung dengan acara seremonial, tapi bisa melalui kegiatan olah raga.
" Kami dari komunitas senam GOR Satria merayakan dengan cara senam menggunakan kebaya, enak kok,'" ujar Diyah Mamung.
Di sisi bagian utara GOR Satria Purwokerto, terdengar musik lain yang tak kalah semangat. Sekelompok ibu-ibu dari komunitas Jalan Nordic tampak bergerak serempak, mengenakan kebaya lengkap sambil membawa tongkat khas Nordic Walking. Sementara itu, mengitari lintasan GOR, sejumlah ibu manula berjalan santai—juga dengan kebaya—menyatu dalam suasana pagi yang hangat.
Pertanyaan pun muncul: mengapa hari ini mereka berolahraga dengan kebaya dan pakaian adat, bukan busana olahraga seperti biasanya?
Jawabannya sederhana, sekaligus sarat makna.
Ibu Yasin, perempuan berusia 76 tahun, mengaku sudah menjadi langganan olahraga pagi di GOR Satria. Hari ini terasa spesial baginya.
“Karena hari ini Hari Ibu, jadi kami pakai pakaian adat,” ujarnya sambil tersenyum.
Ia lalu tertawa kecil sebelum melontarkan kalimat lugas yang mengundang senyum, “Ya kalau bukan ibu-ibu yang merayakan, siapa lagi? Masa bapak-bapak yang mau merayakan?”
Benar juga, batin penulis.
Ketika ditanya apakah tidak ribet atau merepotkan berolahraga dengan kebaya, Ibu Yasin menjawab mantap, “Kalau dijalani dengan senang dan tulus, insya Allah tidak ada masalah. Seperti yang Anda lihat.”

Kalau HUT Kemerdekaan pakai merah putih, Hari Kartini pakaian keibuan.
Semangat yang sama diungkapkan oleh Ketua Komunitas Jalan Nordic Indonesia Cabang Banyumas, Ir. Tjutjun Sunarti Rochidue, M.Si. Menurutnya, kegiatan senam berkebaya ini merupakan bentuk perayaan Hari Ibu yang dilakukan dengan cara sederhana namun bermakna.
“Hari ini kami sepakat merayakan Hari Ibu dengan mengenakan pakaian adat, udah biasa bagi kami,” jelasnya.
Soal kebaya yang kerap dianggap menyulitkan, Tjutjun menepis anggapan tersebut.
“Sekarang kebaya dan jarit tidak ribet kok. Jarit sudah bisa dibuat model celana, jadi tetap nyaman untuk bergerak.” tambahnya.
Tak hanya merayakan Hari Ibu dengan senam dan busana adat, kepedulian sosial pun hadir di pagi itu. Secara spontan, anggota Komunitas Jalan Nordic Indonesia Cabang Banyumas berhasil mengumpulkan donasi sebesar Rp5,6 juta untuk membantu korban bencana di Sumatra.
Hari Ibu di Indonesia diperingati setiap 22 Desember, dan tahun ini memasuki usia ke-97. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) menetapkan tema Hari Ibu 2025, “Perempuan Berdaya dan Berkarya, Menuju Indonesia Emas 2045.”
Tema tersebut menegaskan peran strategis perempuan dalam pembangunan bangsa—bukan hanya di ranah domestik, tetapi juga sosial, budaya, dan kemanusiaan.
Logo Hari Ibu 2025 menampilkan setangkai bunga melati-kuncup sebagai simbol kesucian dan kasih sayang, berpadu dengan Merah Putih sebagai lambang perjuangan.
Pagi itu, di GOR Satria Purwokerto, makna tema tersebut terasa nyata. Lewat kebaya, senam, tawa, dan kepedulian, para ibu menunjukkan bahwa mereka bukan hanya penjaga keluarga, tetapi juga penjaga nilai, tradisi, dan empati kemanusiaan.