Kecintaan Masyarakat Pada Kuliner "Polo Kependem" Mendukung Ketahanan Pangan

Kecintaan Masyarakat Pada Kuliner "Polo Kependem" Mendukung Ketahanan Pangan
Di berbagai daerah di Jawa Tengah kuliner tradisional "polo kependem" kini kembali populer dan banyak dicari masyarakat.

Spektroom Semarang: Polo Kependem adalah sebutan untuk berbagai makanan tradisional yang berupa umbi-umbian yang berada di dalam tanah.

Hal ini tentu menjadi dukungan positif bagi kemandirian dan ketahan pangan, meski para penjual juga menyelipkan jajanan lain seperti pisang, jagung,Sukun dan lain sebagainnya.

Di berbagai daerah di Jawa Tengah kuliner tradisional "polo kependem" kini kembali populer dan banyak dicari masyarakat.

Elta, seorang pedagang, mengaku hanya dalam dua minggu dagangannya selalu laris terjual. "Kalau menurut saya banyak yang suka, soalnya tiap hari kita itu habis terus gitu," ujar Elta, Penjual makanan khas dari hasil bumi ini, dijajakan di Jl Dr Susanto Kabupaten Pati setiap harinya, Minggu (21/9/2025). 

Bahan baku utamanya seperti singkong dan talas diperoleh dari pasokan petani setempat. Komposisi bahan menyesuaikan dengan musim panen dan ketersediaan di pasar.

Proses memasaknya sangat tradisional yaitu dikukus tanpa minyak atau pengawet. Cara ini mempertahankan rasa alami dan nilai sehat dari hasil bumi tersebut.

Pembeli seperti Fira menyatakan kesukaannya pada jajanan tradisional ini. "Kita juga melarisi petani-petani lokal di sini," tutur Fira tentang alasan membeli.

Keberadaan "polo kependem" secara langsung mendongkrak penjualan produk petani. Makanan ini menjadi simbol kemandirian dan ketahanan pangan dan pelestarian kuliner nusantara.(Ap)

Berita terkait

Kegiatan Safari Ramadhan Pemprov Sumbar Tahun 2026 Akan Difokuskan ke Daerah Terdampak Bencana

Kegiatan Safari Ramadhan Pemprov Sumbar Tahun 2026 Akan Difokuskan ke Daerah Terdampak Bencana

Spektroom - Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) akan memprioritaskan daerah-daerah terdampak bencana sebagai lokasi pelaksanaan Safari Ramadhan 1447 Hijriah. Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah menyebut itu dilakukan sebagai bentuk kepedulian dan dukungan moral negara terhadap masyarakat yang terdampak bencana. “Safari Ramadhan tahun ini kita arahkan ke daerah-daerah terdampak bencana, agar

Rafles