Kegamangan Kalangan Praktisi Media Pada Survivalitas Industri Media

Kegamangan Kalangan Praktisi Media Pada Survivalitas Industri Media
Jurnalis Senior Jawa Tengah, Ketua Dewan Kehormatan Provinsi PWI Jateng Amir Machmud NS merefleksikan kondisi terkini pers melalui puisi-puisinya, Minggu, 08/02/2026).(Foto: Sigit)

Spektroom: Jurnalis Senior Jawa Tengah, mantan Ketua PWI Amir Machmud NS merefleksikan kondisi terkini pers melalui puisi-puisinya, Minggu, 08/02/2026).

Menurut Amir, saat ini di kalangan para praktisi terjadi kegamangan terkait dengan kenyataan mengenai survivalitas industri media. Masihkah industri media masih mampu memberikan kesejahteraan bagi para pelakunya?

"Masihkan industri media memberi kesejahteraan?, apakah profesi wartawan masih memberi harapan bagi generasi baru nanti?" ujarnya.

Sementara itu masa disrupsi informasi masih terus berjalan ditandai dengan post trust, ketika media arus utama/mainstream harus bersaing dengan media sosial dalam menyampaikan informasi.

Berbagai platform meddia sosial berseliweran memenuhi ruang digital ketika para endorser, influencer dan buzzer menciptakan dominasi penguasaan informasi dengan cara mengonstruksi konten sendiri.

Wartawan, Dalam Waktu

kita tak berhenti
tetap dalam perjalanan
kita tak mengubah waktu
tetap dalam riuh rupa

tetap setiakah kau melukis langit
memaknainya dengan kata
menerjemahkan tanda alam
membuka jendela dengan narasi?

tetap setiakah kau
ketika akal dunia
tercurah untuk menguasai
terpeta untuk mengungguli
menjejalkan opini kepada semesta

kita tak berhenti
tetap dalam riuh rupa
kita tetap berjalan
tak mengubah waktu

dunia hanya sedikit menyisakan ruang
sepenuhnya memberi kebebasan
kepada pikiran dan perilaku
meruyak tak terbatas
makin ke sini makin meluas
gagasan untuk memojokkan
gagasan untuk menindas
gagasan untuk menguasai
dengan ditopang teknologi informasi

waktu membawa wartawan
dalam pergulatan perubahan
memberi satu pilihan
: akan teruskah berjalan
atau menyerah dalam kenyataan
menghadapkan satu sikap
: akan tetapkah bertahan
atau berhenti mengubur impian

dan, kita tak berhenti
dalam riuh rupa
melukis langit
mewarnai dunia
: bukankah hati dan rasa
menyatu sebagai darah
nadi dalam hidup?
(Feb, 2026), Amir Machmud NS