Kemerdekaan yang Kehilangan Wajahnya
Oleh : Apolonius Welly (Jurnalis Spektroom)
Dalam gaya reflektif dan kritik sosial yang terinspirasi semangat WS Rendra
Indonesia,
aku berdiri di perempatan zaman,
menatap bendera yang berkibar
di antara gedung-gedung tinggi,
di antara layar-layar telepon genggam,
di antara kepala-kepala muda
yang lebih hafal nama selebriti
daripada nama pahlawan bangsanya sendiri.
Tujuh belas Agustus kembali datang.
Merah putih kembali dipasang.
Pidato-pidato kembali dilantangkan.
Lagu kebangsaan kembali diperdengarkan.
Tetapi aku bertanya:
Di mana kemerdekaan itu berdiam?
Apakah ia tinggal
di tiang-tiang upacara yang gagah?
Ataukah ia telah terusir
dari dada anak-anak negeri
yang sibuk menghitung jumlah pengikut,
namun lupa menghitung hutang sejarah
kepada darah para pejuang?
Aku melihat generasi muda
berjalan tergesa-gesa
di jalan raya globalisasi.
Mereka fasih berbicara
tentang negeri-negeri jauh.
Tetapi gagap
ketika ditanya tentang tanah sendiri.
Mereka marah karena sinyal internet lemah,
namun diam
ketika hutan dibakar.
Mereka gaduh di media sosial,
namun sunyi
ketika keadilan diinjak-injak.
Nasionalisme kini
seperti lagu lama di radio tua,
masih terdengar,
tetapi tak lagi didengarkan.
Padahal kemerdekaan
bukan hadiah yang jatuh dari langit.
Kemerdekaan adalah jerit orang-orang lapar
yang menolak menjadi budak.
Kemerdekaan adalah darah
yang mengering di tanah pertempuran.
Kemerdekaan adalah air mata ibu
yang kehilangan anaknya
demi sebuah kata:
Indonesia.
Tetapi kini,
kata itu sering terdengar
seperti slogan yang kehilangan jiwa.
Aku melihat apatisme
tumbuh seperti ilalang liar.
Anak-anak bangsa berkata,
“Untuk apa peduli?
Negara tak pernah peduli kepada kami.”
Dan pemerintah menjawab
dengan angka-angka statistik,
dengan laporan-laporan tebal,
dengan seremoni-seremoni megah.
Sementara rakyat menunggu
bukan pidato,
melainkan kehadiran.
Bukan janji,
melainkan bukti.
Bukan tepuk tangan,
melainkan keberanian
untuk berdiri bersama mereka.
Sebab nasionalisme
tidak tumbuh dari baliho.
Tidak lahir dari spanduk.
Tidak hidup karena slogan.
Nasionalisme tumbuh
ketika rakyat merasa dimiliki.
Ketika keadilan tidak diperjualbelikan.
Ketika hukum tidak memilih wajah.
Ketika kekuasaan masih mengenal malu.
Wahai generasi muda,
jangan warisi kemerdekaan
sebagai benda museum.
Jangan biarkan merah putih
sekadar menjadi foto profil
yang dipasang setahun sekali.
Kemerdekaan adalah pekerjaan
yang belum selesai.
Masih ada kemiskinan.
Masih ada ketimpangan.
Masih ada korupsi.
Masih ada keserakahan
yang mencuri masa depan bangsa.
Jika kalian memilih diam,
maka sejarah akan berjalan
tanpa membawa nama kalian.
Tetapi jika kalian memilih peduli,
memilih berpikir,
memilih mencintai negeri ini
dengan akal sehat dan keberanian,
maka kemerdekaan akan menemukan
wajahnya kembali.
Dan pada hari itu,
Indonesia tidak hanya merdeka
di dalam teks proklamasi,
tetapi merdeka
di dalam hati anak-anak bangsanya.
Sebab bangsa yang kehilangan nasionalisme
akan perlahan kehilangan arah.
Dan kemerdekaan
yang tak lagi diperjuangkan,
akan berubah menjadi upacara
tanpa makna.