Kendaraan Roda Tiga Berpotensi Jadi Alternatif Transportasi Perkotaan
Surakarta – Spektroom: Pengembangan kendaraan roda tiga, seperti bajaj modern dan becak listrik, dinilai berpotensi menjadi alternatif transportasi di Indonesia. Selain mendukung mobilitas masyarakat, moda ini dapat mengisi kebutuhan transportasi pengumpan menuju angkutan umum massal, terutama di kawasan perkotaan, perdesaan, dan kepulauan.
Pakar transportasi dari Unika Soegijapranata sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, mengatakan kendaraan roda tiga memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan sepeda motor untuk fungsi transportasi tertentu.
Menurutnya, kendaraan roda tiga memiliki titik tumpu yang relatif stabil saat berhenti maupun melaju dengan kecepatan rendah. Sejumlah desain modern juga dilengkapi atap dan kabin yang dapat melindungi pengemudi serta penumpang dari hujan dan panas.
Dari sisi kapasitas, kendaraan ini dapat mengangkut dua hingga tiga penumpang atau barang dengan beban lebih besar dibandingkan sepeda motor. Moda tersebut juga berpotensi memudahkan mobilitas lansia, penyandang disabilitas, anak-anak, serta penumpang yang membawa banyak barang.
“Keunggulan ini makin diperkuat oleh tingkat aksesibilitasnya yang ramah pengguna, lebih mudah diakses oleh lansia, penyandang disabilitas, anak-anak, maupun penumpang yang membawa banyak barang bawaan,” ungkap Djoko kepada Spektroom, Minggu (11/10/2026).
Di Indonesia, bajaj telah beroperasi di sejumlah daerah, antara lain Bekasi, Banjarmasin, Sampit, Banyumas, dan Cilacap. Sementara itu, layanan bajaj modern berbasis aplikasi mulai masuk Makassar pada 2023 dan kemudian berkembang ke sejumlah kota lain, termasuk Medan, Pematangsiantar, Yogyakarta, Surakarta, Sragen, hingga Semarang.

Selain untuk mobilitas perkotaan, kendaraan roda tiga juga berpotensi dikembangkan di pulau-pulau kecil yang belum memungkinkan penyelenggaraan angkutan umum massal. Ukurannya yang relatif kompak dinilai dapat mendukung konektivitas wilayah pedalaman dan pesisir.
Meski demikian, Djoko mengingatkan bahwa pengembangan kendaraan roda tiga tetap perlu memperhatikan aspek keselamatan dan kapasitas jalan. Kendaraan jenis ini berisiko terguling ketika berbelok tajam dengan kecepatan tinggi. Selain itu berpotensi menambah kepadatan lalu lintas apabila jumlah armadanya tidak dikendalikan.
Karena itu, diperlukan strategi terpadu yang mencakup regulasi, pengelolaan operasional, pemanfaatan teknologi, serta promosi kepada masyarakat.
“Integrasi teknologi serta skema insentif yang tepat dapat mendorong moda ini tumbuh menjadi solusi mobilitas yang inklusif, ramah lingkungan, aman, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menegaskan, pemerintah daerah memiliki peran penting dalam mengawasi dan mengendalikan operasional kendaraan roda tiga di wilayah masing-masing. Pengendalian diperlukan untuk menjaga keseimbangan antara jumlah armada dan kebutuhan pengguna, sekaligus memastikan kesejahteraan pengemudi tetap terjaga.
“Pemerintah daerah memegang peran penting dalam melakukan pengawasan dan pengendalian operasional di wilayahnya guna menjaga keseimbangan antara jumlah armada dan kebutuhan,” tandasnya.